Kamis, 07 November 2013
MENGENAL METHODE TARGHIB DAN TARHIB
MENGENAL METHODE TARGHIB DAN TARHIB
ABSTRAK
Keberhasilan seorang Pendidik di kelas dalam menyampaikan
materi dikelas dan dapat diresrpon dengan baik oleh peserta didik, bukan saja
kebutuhan kompetensi guru dalam menguasai materi pembelajaran, tetapi ada unsur
lain yang juga cukup menentukan berhasil tidaknya proses pembelajaran di klas
yaitu methode.
Seorang guru harus pandai dan piawai dalam menggunakan
metode di hadapan muridnya.Satu diantaranya adalah methode Tarhib dan Targhib.
Kedua metode ini sangat membantu guru dan siswa saling berinterkasi dalam
menuju keberhasilan. Dalam metode ini guru bisa memberikan harapan yang
menyenangkan bahkan hadiah kepada siswa yang berhasil dan memenuhi
persyaratan kognitif tanpa merusak tujuan pembelajaran dan tidak menyinggung
siswa yang gagal karena dilakukan dengan cara yang demokratis ( Targhib ).
Sementara anak didik yang gagal kerena melanggar aturan pembelajarandan tidak
memenuhi persyaratan kognitif dapat ancaman bahkan dihukum ( Tarhib )
Metode ini dalam pendidikan Islam sudah begitu dikenal,
tetapi sayang beberapa dekade belakngan ini kurang populer lagi kerena
banyak pendidik islam sendiri lebih menyukai konsep barat yang cenderung
mengenyampingkan aspek apektif yang dapat menghilangkan ke fitrian tujuan
pendidikan itu sendiri yaitu membentuk manusia bukan saja pandai
keintelektualannya, tetapi juga aspek spritualnya perlu di bangun secara
serempak.
Disamping itu methode ini bersumber dari Al Qur’an dan Al
Hadist yang sudah pasti kebenarannya karena sesuai dengan pertumbuhan
manusia baik dari aspek rohani atau jasmani. Hemat Penulis sudah mendesak
waktunya kita kembali kepada ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan
terutama dalam dunia pendidikan agar terbentuknya manusia yang komplit ilmunya
dan baik ahlaqnya.
- PENDAHULUAN
Seperti diketahui dalam menjalani
kehidupannya manusia sebagai subyek telah ditetapkan oleh Allah
. mengelola
bumi beserta isinya. Untuk memenuhi misi tersebut manusia tidak
mungkin tanpa ilmu pengetahuan. Proses belajar sesuatu yang harus
dijalankan, baik melalui orang terdekat (non-formal) atau lewat lembaga resmi
secara berjenjang (formal) Dalam proses belajar itulah kemudian tercipta
perubahan moral yang bersipat lebih baik.Ciri perubahan yang mendasar antara
lain terjadinya perkembangan interanal diri manusia baik pada peningkatan
intelektual (science) atau spritual (iman tan taqwa).
Dalam kehidupan moderen seperti
sekarang ini, produk pendidikan sering kali diukur dari perubahan kemajuan
material dalam bentuk meningkatnya pemuasan kebutuhan manusia (jasmani),
padahal kebutuhan manusia tidak sekedar pemenuhan material, jika itu saja yang
menjadi tujuan dan ukuran dapat menghancurkan harkat kemanusiaan yang
paling dalam sebut saja, kehidupan rohaninya. Alhasil , produk pendidikan tidak
menginginkan kemudian Cuma menghasilakn manusia yang cerdas dan trampil untuk
melakukan pekerjaan, tetapi tidak peduli terhadap lingkungan sekitar baik
hubungan antar manusia , terutama yang berhubungan dengan kewajiban beribadah
sebagai seorang muslim. Ilmu pengetahuan dan kepandaiannya dikembangkan
menjadi instrumen kekuasaan untuk memperdayai orang lain, dan memperoleh
kekayaan dari jalur yang menrugikan orang lain. Tentu saja hal ini tidak kita
inginkan apalagi terjadi dalam lingkungan pendidikan islam.
Ketidakberhasilan tertanamnya
nilai-nilai rohaniah terhadap peserta didik dewasa ini, menurut Qomari
Anwar sangat terkait dengan dua faktor penting , di samping tentu saja banyak
faktor-faktor lain . Kedua faktor tersebut adalah mentalitas pendidik dan
metode pendidikan [1] terkait dengan
hal terakhir yang disebutkan, menurut al- Nahlawi , dalam al Qur’an dan
as-Sunnah sebenarnya terdapat berbagai metode pendidikan yang bisa menyentuh
perasaan dan membangkitkan semangat keagamaan. satu diantara metode –metode
tersebut adalah metode targhib dan tarhib.
- Pengertian Tarhib dan Targhib
Secara etimologis, kata targhib diambil dari kata
kerja raghaba yang berarti menyenangi,
menyukai dan mencintai. Kemudian kata itu diubah menjadi menjadi kata benda
targhib yang mengandung makna suatu harapan utuk memperoleh kesenangan,
kecintaan, kebahagiaan.
Semua
itu dimunculkan dalam bentuk janji-janji berupa keindahan dan kebahagiaan yang
dapat merangsang seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk
memperolehnya. Secara psikologis, cara itu akan menimbulkan daya tarik yang
kuat untuk menggapainya.
Sementara
itu istilah tarhib berasal dari kata rahhaba
yang berarti menakut- nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah
menjadi kata benda tarhib yang berarti ancaman
hukuman[2].
Dari asal kata tersebut, maka dapat diambil pengertian bahwa
yang dimaksud dengan targhib adalah janji yang disertai dengan
bujukan yang membuat senang terhadap suatu yang maslahat, terhadap kenikmatan
atau kesenangan akhirat yang baik dan pasti, serta suka kepada kebersihan dari segala
kotoran, yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan amal soleh dan
kebajikan dan menghindari diri dari kenikmatan selintas, temporer yang
bermuatan negative atau perbuatan buruk. Sementara tarhib ialah suatu
ancaman atau siksaan sebagai akibat dari megerjakan hal yang negative yang
mendatangkan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah
. Atau lengah dalam mejalankan
kewajiban yang diperintahkan oleh Allah
[3].
C.
Posisi Targhib dan Tarhib
1.
Targhib
Penghargaan atau hadiah dalam
pendidikananak akan memberikan motivasi untuk terus meningkatkan atau paling
tidak memperahankan prestasi yang
telah dicapainya, di lain pihak temannya yang melihat akan ikut termotifasi
untuk memperoleh yang sama.Sedangkan sangsi atau hukuman sangat berperan
penting dalam pendidikan anak sebab pendidikan yang terlalu lunak akan
membentuk anak kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati[4].
Secara psikiologis dalam diri manusia
ada potensi kecendrungan berbuat kebaikan dan keburukan (al fujur wa taqwa).
Oleh karena itu pendidikan Islam berupaya mengembangkan manusia dalam berbagai
cara guna melakukan kebaikan dengan berbekal keimanan. Namun sebaliknya pendidikan Islam
berupaya semaksimal mungkin menjauhkan manusia dari perbuatan buruk
dengan berbagai aspeknya. Jadi tabiat ini perpaduan antara kebaikan dan
keburukan , sehingga tabiat baik harus dikembangkan dengan cara memberikan
imbalan, penguatan dan dorongan. Sementara tabiat buruk perlu dicegah dan
dibatasi ruang geraknya.
Seorang anak yang pandai dan selalu
menunjukkan hasil pekerjaan yang baik tidak perlu selalu mendapatkan hadiah (reward)
sebab dikhawatirkan hal itu bisa berubah
menjadi upah dan itu sudah tidak mendidik lagi. Di sinilah dituntut kebijaksanaan seorang guru sehingga
pemberian hadiah ini sesuai dengan tujuannya yaitu memberikan motivasi . Dalam
hal tertentu, bisa jadi yang mendapatkan hadiah itu adalah seluruh siswa,
bukan hanya yang berprestasi saja[5].
Mengingat itu , Ngalim Purwanto membagi jenis ganjaran
seperti sebagai berikut adalah:
1.
Guru mengangguk-angguk tanda
senang dan membenarkan sesuatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.
2.
Guru memberi kata-kata yang
mengembirakan ( pujian )
3.
Dengan memberikan pekerjaan yang lain,
misalnya engkau akan segera saya beri soal yang lebih sukar karena soal
sebelumnya bisa kau selesaikan dengan sangat baik
4.
Ganjaran yang ditujukan kepada
seluruh siswa, misalnya dengan mengajak bertepuk tangan untuk seluruh siswa
atas peningkatan prestasi rata-rata kelas tersebut
5.
Ganjaran berbentuk ganda, misalnya
pensil, buku tulis, coklat dan lain-lain .Tapi dalam hal ini guru harus sangat
berhati-hati dan bijaksana sebab dengan benda-benda tersebut hadiah bisa
berubah menjadi upah[6].
2.
Tarhib
Hukuman (Punishment)
dalam pendidikan mempunyai porsi penting, pendidikan yang terlalu bebas dan
ringan akan membentuk anak didik yang tidak disiplin dan tidak mempunyai
keteguhan hati. Namun begitu sangsi yang baik adalah tidak serta merta
dilakukan, apalagi ada rasa dendam. Sangsi dapat dilakukan dengan bertahap,
misalnya dimulai dengan teguran, kemudian diasingkan dan seterusnya dengan
catatan tidak menyakiti dan tetap bersipat mendidik.
Syaikh
Muhammad bin Jamil Zainu membagi hukuman menjadi dua yakni ;
1. Hukuman yang dilarang, seperti
memukul wajah, kekeraan yang berlebihan, perkataan buruk, memukul ketika marah,
menendang dengan kaki dan sangat marah.
2. Hukuman yang mendidik dan bermanfaat,
seperti memberikan
nasihat dan pengarahan, mengerutkan muka, membentak, menghentikan kenakalannya,
menyindir, mendiamkan, teguran,duduk dengan menempelkan lutut keperut, hukuman
dari ayah, menggantungkan tongkat, dan pukulan ringan[7].
Terkadang memang menunda hukuman akan
lebih besar dampaknya dari pada menghukum yang dilakukan secara spontanitas
.Penundaan akan membuat seorang akan berbuat yang sama atau mengulangi
kesalahan lain lantaran belum adanya hukuman yang dirasakan akibat
kesalahan yang pernah dibuatnya. Sebaiknya tindakan ini jangan dilakukan terus
menerus. Bila kita telah berusaha semaksimal mungkin dalam mendidik
dengan cara lain ternyata belum juga menurut, maka alternatif terakhir adalah
hukman fisik (pukulan ) tetapi masih tetap pada tujuan semula yakni bertujuan
mendidik.
Abdullah Nasih Ulwan menyebutkan persyaratan memberikan
hukuman pukulan antara lain :
1. Pendidik tidak terburu-buru
2. Pendidik tidak memukul ketika dalam
keadaan sangat marah
3. Menghindari anggota badan yang peka
seperti kepala,muka,dada dan perut.
4. Tidak terlalu keras dan menyakti
5. Tidak memukul anak sebelum ia
berusia 10 tahun
6. Jika kesalahan anak adalah untuk
petama kalinya, hendaknya diberi kesempatan untk bertobat, minta maaf dan
berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu
7.
Pendidik menggunakan tangannya
sendiri
8.
Jika anak sudah menginjak usia
dewasa dan dengan 10 kali pukulan tidak juga jera maka boleh ia menambah dan
mengulanginya sehingga anak menjadi lebih baik[8].
Namun begitu, diperbolehkannya
menghukum bukan berarti pendidik dapat melakukan hukuman sekehendak hatinya,
terlebih pada hukuman fisik,ada anggota bagian badan tertentu yang perlu
dihindari . Jadi Cuma bagian anggota tertentu saja yang dapat dilakukan ketika
melakukan hukuman fisik, misalnya pada bagian muka atau mata yang berakibat
cacat anak sehingga menjadi minder. Jangan pula memukul kepala, karena berbahaya untuk
perkembagan otak dan syaraf yang berakibat pada gangguan kejiwaan dan
mental.Oleh karena itu apabila hukuman terpaksa akan dilakukan maka pendidik
hendaknya memilih hukuman yang palinmg ringan akibatnya. Jika hukuman badan yang dijatuhkan
maka pendidik memilih anggota badan lain yang lebih aman dan kebal terhadap
pukulan seperti pantat dan kaki.
Dalam bukunya Armai Arief mengomentari tentang pemberian
hukuman ada lima hal yang harus diperhatilan oleh si pendidik antara lain :
1.
Tetap dalam jalinan cinta, kasih dan
sayang
2.
Didasarkan kepada alasan
keharusan
3.
Menimbulkan kesan di hati anak
4.
Menimbulkan keinsyafan dan
penyesalan kepada anak didik
D. Keutamaan Targhib dan Tarhib
Targhib dan Tarhib dalam khasanah pendidikan Islam , menurut
Al Nahlawi seorang tokoh pendidikan Islam dalam komentarnya menyatakan bahwa
berbeda dari metode ganjaran dan hukuman dalam pendidikan barat. Perbedaan yang
palimg mendasar adalah targhib dan tarhib berdasarkan ajaran Allah
. yang sudah pasti
kebenarannya, sedangkan ganjaran dan hukuman berdasarkan pertimbangan duniawi
yang terkadang tidak lepas dari ambisi pribadi[10].
Targhib dan tarhib dalam pendidikan islam sangat urgen
diberlakukan ada beberapa alasan diantaranya adalah:
1. Bersifat transenden yang mampu
mempengaruhi peserta didik secara fitri. Semua ayat yang mengandung targhib
dan tarhib ini mempunyai isyarat kepada keimanan kepada Allah
. dan hari akhir
2. Disertai dengan gambaran yang indah
tentang kenikmatan surga atau dahsyatnya neraka
3. Menggugah serta mendidik perasaan
Rabbaniyyah, seperti khauf, khusu,raja’ dan perasaan cinta kepada Allah
.
Dapat di mengerti bahwa metode targhib dan tarhib
tersebut pada dasarnya berusaha membangkitkan kesadaran akan keterkaitan
dan hubungan diri manusia dengan Allah
. Dengan demikian
metode ini sangat cocok untuk dikembangkan untuk membentuk anak didik
yang sesuai dengan tujuan pendidikan islam diantaranya membentuk kepribadian
yang utuh lahir dan bathin.
E . Tinjauan Al Qur’an dan Hadist
Seperti kita pahami bersama bahwa penggunaan metode dalam
pendidikan Islam disesuaikan dengan tingkat kecerdasan, kultur, kepekaan dan
pembawaan anak.Diantara mereka ada yang cukup dengan isyarat.Ada yang hanya
jera apabila dengan pandangan cemberut dan marah, tetapi ada juga yang tidak
mempan dengan cara-cara tersebut, sehingga mereka harus merasakan hukuman
terlebih dahulu[12].
Jadi
baik hukuman atau rangsangan kepada anak didik harusdilakukan dengan sangat
hati- hati dan penuh kecermatan dari seorang pendidik. Hal ini dilandasi oleh
betapa Islam begitu santun dalam mendidik umatnya baik yang terdapat dalam yang
kita temui dalam Al Qur’an atau Hadist .diantaranya
1.
Bentuk Targhib (Rangsangan)
a.
Kepada mereka yang yang selalu
berbuat kebajikan terutama yang menafkahkan/sodaqoh hartanya
االذين ينفقون في السراء والضراء
والكظمين الغيظ والعا فينن عن النا س والله يحب المحسنين
Artinya:
Orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik dalam waktu luang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahny dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah
mencintai orang-oang yang berbuat kebaikan
b.
Dijanjikan kepada mereka yang
bertaqwa dengan balasan tidak terduga
وومن يتق الله يجعل له مخرجا
Artinya
: Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah , niscaya akan menjadikan baginya
jalan keluar
ويرزقه من حيث لايحتسب
Dan
akan member rezki dari arah yang tidak disangka-sangka
ومن يتق الله فهو حسبه
Dan
barang siapa yang bertawaqal kepada Allah , niscaya Allah akan
mencukupkan keperluannya ….
2.
Bentuk Targhib (Ancaman)
a.
Mereka yang tidak disukai Allah
dalam hidupnya
يا ايها الذين آمنوا لاتحرموا طيبت ما
احل الله لكم ولاتعتدوا ان االله لايحب المعتدين
Artinya
: Hai orang-orang ang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik
yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu malampawi batas.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai terhadap orang melampaui batas
b.
Mendapat hukuman langsung
والسا رق والسا ر قة فا قطعوا ايد
يهما جزاء بما كسبا نكلا من الله والله عزيز حكيم
Artinya
: Laki-laki dan perempuan yang melakukan pencurian ,potonglah tangan keduanya
sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan.
Contoh
Hadist Nabi tentang Targhib dan Tarhib
Banyak
sekali kita jumpai dari hadist Rasulallah SAW. Yang menggambarkan tentang
nasihat tentang mendidik anak yang penuh dengan kasih saying bahkan terhadap
para sehabat beliau yang sudah dewasa atau tua renta, dengan menghindari
hukuman kecuali dengan terpaksa yang sebelumnya didahului dengan peringatan. Diantaranya
adalah:
عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى
الله عليه وسلم قا ل رفع القلم على ثلاثة عن النا ءىم حتى يستيقظ وعن الضبي حتى
يحتلم وعن المجنون حتى يعقل
Artinya : Dari Ali ra wa kw dari Nabi Muhammad SAW
beliua bersabda Pena diangkat atas tiga golongan dari orang yang sedang
tidur hingga dia bangun, dari anak kecil hingga dia dewasa, dan dari orang gila
hingga dia waras (berakal) [13]
سوار أبي حمزة عن عمرو بن شعيب عن أبيه
عن جده قال : قال رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) : " مروا أولادكم بالصلاة
وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشز وفرقوا بينهم في المضاجع "
.
أخرجه بن أبي شيبة في " المصنف " ( 1 / 137 / 2 ) وأبو داود ( 495 ، 496
) واللفظ له والدارقطني ( 85 ) والحاكم ( 1 / 197 ) والبيهقي ( 7 / 94 ) واحمد ( 2
/ 187 ) والعقيلي في " الضعفاء " ( ص 411 ) والخطيب في " تاريخ بغداد
) ( 2 / 278 ) والبيهقي ( 3 / 84 ) من طرق عنه به
Artinya : “Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari
kakeknya dan dia berkata Rasulallah
bersabda Perintahkanlah anak-anak kalian
untuk mengerjakan shalat ketika berusia tujuh tahun , dan pukulah mereka jika
tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan pada usia tersebut juga
pisahkanlah tempat tidur mereka (laki-perempuan)”.[14]
Hujatul Islam al Ghazali berujar hendaknmya para guru member
nasihat kepada siswanya denmgan kelembuan. Guru dituntut berperan sebagai orang
tua yang dapat merasakan apa yang dirasakan anak didiknya,jika anak
memperlihatkan suatu kemajuan, seyogyanya guru memuji hasil usaha muridnya, berterima kasih
kepadanya dan mendukungnya terutama di depan teman-temannya [15].
Seorang guru hendaknya menjadi sahabat dan teman
dalam proses pembelajaran di kelas, dengan sikap ramah, membantu, penuh senyum
dan tidak mudah marah apalagi menghukum. Apabila anak didiknya mengerjakan hal
yang tidak baik, hendaknya jangan di publikasikan dengan teman lainnya.jika
anak mengulangi kesalahan yang sama tegurlah dengan cara yang baik dan
tidak menyinggung perasaan murid, apalagi mengungkit- ungkit keturnan dan
keluarga. Walaupun demikian bukanlah berarti tidak ada hukuman yang
diberlakuakn di kelas terhadap
anak didik yang melanggar aturan dan norma pendidikan. Sebab jika tidak,
sekolah secara keseluruhan tidak mempunyai wibawa di masyarakat dan
dianggap sekolah yang tidak memahami karakter pendidikan.
Keberhasilan seorang pendidik di kelas
bukanlah ditentukan dominan oleh seberapa jauh kemampuan kompetensinya saja,
tetapi juga kepiawayan guru dalam tampil di muka peserta didik, dalam hal ini
adalah metode yang dipergunakan ketika berhadapan dengan peserta didik sangatlah
menentukan berhasil tidaknya seorang guru menyampaikan materi pelajaran dan
muridnya merasa senang. Sebab ada juga guru yang berhasil mengajar di kelas
tetapi tidak ada kesan yang
memungkinkan para peserta didik merasa senang dan kerasasan menerima pelajarannya.
Perlu diingat bagi para guru bahwa
ketika anak murid sudah simpati terhadap gurunya karena mengerti
tentang mereka, sebenarnya ini sudah menjadi modal besar. Dari sinilah
perhatian dan keseriusan murid dalam mencerna dan memperhatikan materi yang di
sampaikan guru akan berhasil, karena tidak ada keterpaksaaan, yang timbul
adalah kesadaran belajar sebagai seorang murid. Terkadang guru kurang menyadari
bahwa kemalasan dan ketidakseriusan atau kenakalan murid dalam belajar
dituduhkan sepenuhnya kepada mereka, padahal belum tentu itu disebabkan oleh
tingkah laku murid yang tidak patuh dengan aturan sekolahatau tugasnya sebagai
murid. Jadi sikap pendidik seperti tersebut diperlukan otokoreksi jujur yang
permanen, artinya mereka harus menyadari bahwa kegagalan selama ini disebabkan
oleh sikap dan prilakunya yang sudah menyimpang dari kode etik seorang
pendidik. Dengan kata lain mereka harus belejar banyak tentang Pedagogik dan
psikologi mengajar,seperti suasana belajar harus diciptakan se kondusif mungkin
baik dalam hal ruangan atau kenyamanan yang dimulai dari pendidik sendiri. Coba
kita lihat literatur Islam yang menunjukkan betapa sikap guru sangat sentral
dalam berhasil tidaknya dalam menyampaikan ilmu, terutama yang bersumber
dari contoh Rasulallah
. dalam
menyampaikan ilmu di hadapan para sehabatnya
Suasana keilmuan dalam majelis Nabi
Muhammad
.adalah suasana
“ tulus ikhlas” dengan tujuan agar mendapatkan pelajaran dengan mudah, tanpa
ada penghalang yang menjadi rintangan atau hal lain yang akan mengganggu
kosentrasi. Bahkan Beliau sangat ingin agar majelis ta’limnya tidak bubar hanya karena bau udara yang
kurang sedap. Dalam pertemuan mingguan yang diadakan setiap jum’at, selalu
didahului dengan mandi wajib, dan Nabi
menyuruh orang yang baru memakan
bawang( putih atau merah ) agar duduk meyendiri agak jauh dari majlis sampai
baunya hilang[16]
Gambaran suasana ta’lim Beliau
sangatlah meneyentuh, terutama yang menyangkut
peserta didik. Beliau tidak menghukum peserta didiknya dengan cara yang dapat
mematahkan semangat belajar murid, hal ini dapat dilihat dari cara beliau
memberikan hukuman ( targhib ) sangatlah mendidik dan tidak menyakiti,
dengan cara duduk agak menjauh dari yang lain tetapi tetap diperkenankan
mengikuti pelajaran, kecuali rasa baunya sudah hilang boleh duduk bersama.
Sikap bijaksana dan tidak arogan sangatlah dibutuhkan oleh seorang pendidik,
sekalipun celah itu ada dan memungkinkan, hendaknya diambil dan dijatuhkan
dengan cara yang tidak meyakitkan peserta didik agar mereka tidak merasa
dikucilkan dan dirampas haknya sesama murid. Keterangan Nabi Muhammad
.tentang
dirinya dalam hadits-haditsnya memberikan gambaran pribadinya sebagai pribadi
seorang guru dalam gambaran yang agung. Beliaulah yang telah mengajarkan ilmu
dari Sang Pencipta dengan baik, menyampaikan risalahnya kepada segenap manusia
dan sangat berambisi terhadap mereka, mampu menyesuiakan dengan berbagai tabiat
mereka ,sangat ramah dan lemah lembut dalam pengajarannya dengan menempuh cara
yang sesuai dengan setiap muridnya. Semua itu dalam rangkaian suasana keilmuan
yang mulia[17]
Banyak hadist yang membahas adab,
wejangan dan nasehat-nasehat yang dapat
membentuk manusia menjadi mulia, seperti berkata benar, melaksanakan amanat,
menepati janji, menjaga pandangan, memaafkan kesalahan, toleransi dan lain-lain
adab kejiwaan dan kemasyarakatan. Banyak aspek pembelajaran yang harus
diperhatikan oleh para pendidik dalam melaksanakan tugasnya di muka kelas yang
berkaitan bukan saja dengan murid sebagai orang pertama yang dihadapi, tetapi
lingkungan rohani harus benar-benar melekat pada diri seorang guru yaitu sifat
mulia atau adab yang disebutkan diatas.
Sebab apa yang diucapkan dan dilakukan
guru mejadi contoh dan langsung di tiru oleh para siswa. Oleh karena itu rasa
simpati perlu dibangun di dalam kelas bukan dengan sikap otoriter dan menang
sendiri guru, namun di bangun melalui rasa simpati dan kasih sayang antara
peserta didik dengan pendidik melalui methode yang sarat dengan nilai-nilai
keislaman yang bersipat universal.
Para pakar ilmu jiwa pendidikan telah
mencurahkan segala kemampuannya untuk menentukan sosok-sosok pendidik sejati
dan jangkauan pengaruhnya dalam diri peserta didik. Di antara tabiat mansia
tidak mau menyempurnakan proses belajar yang mereka tempuh kecuali dari
pendidik yang mereka cintai, mereka ketahui kemampuanya, mereka rasakan adanya
setruman-setruman jiwa secara langsung, roman muka yang selalu ceria dan
perhatian yang penuh. Sebagaimana mereka mengetahui bahwasannya seorang
pendidik sejati harus mengusai materi yang akan disajikan kepada peserta didik
dengan sempurna. Sipat jujur, amanah, kesungguhan dalam memberikan nasihat
harus melekat pula dalam diri seorang pendidik.
Belajar adalah bagian kegiatan,
sehingga mengajar merupakan spesipikasi positif oleh para pendidik ketika hal
itu diperlukan, atau dengan kata lain, setiap pendidik seharusnya dan
sudah spantasnya berbuat yang dapat menimbulkan motivasi dan gairah belajar
siswa. Disamping tentu
saja tidak meninggalkan tujuan instruksional khusus atau umum dalam
pembelajaran untuk mencapai tujuan dan kesuksesan apabila
tujuannya sudah jelas maka yang diperlukan kemudian adalah sugesti dan motivasi
guna memperkuat hadap ( tujuan ) yang masih lemah. Jadi seorang pendidik tidak
baik membiarkan muridnya tertinggal dengan temannya tanpa mencari tahu penyebabnya,
jika diperlukan harus ada perhatian khusus agar terpacu semangatnya dalam
mengejar ketertinggalan dalam materi belajar, sebab pada dasarnya manusia
mempunyai kemampuan tidak berbeda jauh tinggal bagaimana kita mengemas dan
membangun hal tersebut.
F.
Sifat- sifat
Materi Pelajaran Yang Disampaikan Nabi Muhammad
.
Seperti Penulis katakan
diatas pada awal tulisan ini bahwa Islam merupakan agama yang sudah mengatur
berbagai macam kehidupan pemeluknya termasuk soal pendidikan.
Mereka yang mendalami dua pedoman hidup muslim yakni Al
Qur’an dan Al Hadist akan mengetahui secera benar bagaiman Rasulallah
. menyampaikan
materi da’wah atau pelajaran yang diajarkan dalam madrasah Beliau
, diantaranya
adalah :
1. Bukan
Rekayasa Manusia
Materi tersebut
bukan merupakan rekayasa manusia yang terlahir dari kecerdasan individu atau
hati yang lembut, pengalaman yang luas dan sebagainya, akan tetapi ia bersumber
dari risalah yang dipilih oleh para Nabi yang melahirkan kemuliyaan bagi
mereka. Rasulallah
. tidak berucap
sesuatu kalimat kecuali wahyu yang diterimanya. Sebagaimana penjelesan dalam Al
Qur’an
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
(4)
“Dan tiadalah
yang diucapkannya itu ( Al Qur,an ) menurut kemauan hawa nafsunya, melainkan
ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan”(Q S An-Najm : 3,4).
Dengan demikian Nabi
.
tidak pernah dipengaruhi oleh orang atau faktor-faktor kejiwaan lain yang
mengintervensinya sehingga bisa berubah tujuan. Oleh karena itu
beliau tidak mungkin mengadakan perubahan dalam meyampaikan risalahnya atau
hukum yang telah ditetapkan Allah
.
Itulah perbedaan antara ilmu yang
berdasarkan wahyu dengan ilmu manusia, seperti demikianlah perbedaan para Nabi
dengan para pemimpin lainnya
yang kita jumpai di masyarakat. Misi dan perjuangan mereka berdasarkan
ketetapan dan kehendak yang mengutusnya. Perbedaan prinsip mereka adalah bukan
saja kebenaran yang hakiki, namun juga sebagai obat penenang yang membimbing
masyarakat dan membina jiwa-jiwa yang sadar, bahkan mereka yang tidak sadar dan
jauh dari kebenaran menjadi manusia yang insyaf meniti jalan yang lurus.
Merekalah yang selalu memperhatikan lingkungan, masyarakat, situasi, dan
kondisi, memproritaskan kemaslahatan dan keselamatan, mereka tundukkan berbagai
keadaan dan menguasai berbagai sudut kehidupan.[18]
Dapatlah lebih dipahami bahwa turunnya
syariat adalah untuk membawa manusia pada kehidupan yang baik dengan segala aspeknya,
sayang memang manusia dengan berbagai macam dalih yang bersumber dari hawa
nafsunya lari dan enggan menghampiri permata yang sudah berada dihadapannya.
Mereka sering kali membalik kebatilan menjadi teman, sementara yang hak menjadi
lawan. Penomena ini semakin jelas bahkan seakan kontras ketika seorang muslim
tidak mendapatkan didikan agama sedini mungkin, kalau mereka memperolehnya
tidak melalui penyampaian yang sesuai dengan tuntunan Rasul
;
akhirnya mereka terbentuk tidak maksimal.
Dengan kata lain pemahaman keagamaan
mereka tidak matang dan terkesan rapuh. Dalam kondisi seperti ini seorang
muslim sangat mudah dipengaruhi oleh unsur atau paham lain yang dapat
melunturkan bahkan menghilangkan kebenaran yang sudah melekat dalam dirinya. Atau
paling tidak mereka mempunyai rasa panatisme yang tipis dalam agama, maka boleh
jadi mereka mudah melakukan sesuatu yang sebenarnya salah dalam Islam, tetapi
dikerjakan karena kurangnya pemahaman yang maksimal dalam memahami ajaran yang
bersumber dari wahyu yang telah di sampaikan oleh Rasul
.
Agama adalah satu-satunya cara atau sarana
untuk memenuhi semua kebutuhan dan dambaan manusia, tak sesuatu pun yang
dapat menggantikan posisinya. Sejak beberapa waktu yang baru lalu, sebagian
orang percaya bahwa dengan kemajuan dan modernisasi yang dicapai oleh manusia,
kebutuhan akan agama segera hilang karena ilmu pengetahuan akan dapat memenuhi
semua kebutuhan dan dambaan manusia. Namun, kini setelah kemajuan besar dicapai
oleh ilmu pengetahuan, manusia tetap merasakan adanya kebuthan mendesak
akan agama berkenaan dengan kebahagiaan individu maupun masyarakat[19]
. Islam memang menghargai keberadaan akal, oleh karena melalui akal mereka
mampu membuat peradaban yang menghantarkan manusia pada puncak kepuasan, tetapi
mereka sadar bahwa semua itu akan berakhir dan tidak abadi, akan sirna ditelan
masa. Maka kehadiran agamalah yang mampu menjawab kebutuhan manusia tanpa batas.
2. Mudah dan
toleran
Ilmu rabbani ini sangat realistis, bisa diterapkan bagi individu maupun
masyarakat, agar setiap individu mencapai derajat kesempurnaan sehingga
terciptalah masyarakat yang mampu merealisasikan makna kemaslahatan yang di
kehendaki Allah
.
Maka sifat dan tabiat ilmu ini ajaran yang
tertera dalam Islam baik yang di dapat dalam Al Qur’an atau Al Hadist sangat
sesuai dengan fitrah manusia, artinya hukum larangan dan perintah entah yang
menyangkut aspek ibadah atau muamalah tidak ada yang bertentangan dengan jiwa
dan karakter manusia sebagai penggunanya, sehingga tidak bisa diterima dengan
rasio yang sehat jika ada seorang muslim yang merasa berat menjalankan syariat
tersebut, mengapa demikian, karena memang sudah di kondisikan dan di buat
sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri. Bukti kemudahan
ilmu ini, dapat dilihat bahwa Al Qur’an telah diturunkan selama dua puluh tiga
tahun ,banyak para sehabat yang menghapal dan Rasul
dapat mengamalkan secara sempurna bersama
umatnya, memecahkan berbagai macam kesulitan dan persoalan hidup yang
sebelum datangnya Islam mereka hidup tanpa aturan dan jauh dari nilai-nilai
kemanusiaan. Semua itu dibicarakan oleh nash-nash, terbukti oleh
peristiwa-peristiwa dan terukir dalam lembaran sejarah syariat dan prilaku
Rasul
.
وَقُرْآناً
فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً
(106)
Artinya “Dan Al Qur’an
itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya
perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.(al-Isra:106)
Begitulah cara Rasul
menyampikan ilmu dan pengamalan agama di
tengah masyarakatnya yang heterogen, baik ilmu pengetahuan atau status
sosialnya. Dengan begitu mereka dapat menerima ajaran islam tanpa beban, bahkan
terkesan menyenangkan.
Coba kita lihat
pelaksaan sholat jama’ah Rasul
melaksanakan dan memerintahkan kepada para sahabatnya untuk
meringankan shalatnya, sebab para makmum itu ada yang lemah dan banyak
keperluan.
Semua kemudahan, tahapan-tahapan dan
pertimbangan adanya maslahat, hikmah dan toleransi tersebut adalah dalam rangka
pengajaran dan pendidikan dalam masalah juziyyah, sedangkan dalam masalah-masalah
aqidah dan dasar-dasar agama, kewajiban-kewajiban, nash-nash dan apa-apa yang
membedakan antara keimanan dan kekufuran dan tauhid dengan kemusyrikan yang
merupakan syiar-syiar Islam dan aturan-aturan Allah SWT, telah ditegaskan oleh
para Nabi dengan suatu ketegasan yang keras melebihi kerasnya besi dan telah
mereka tancapkan keharusannya dengan kuat melebihi kokohnya gunung-gunung
[21]
3. Terang dan
Jelas
Tidak ada sesuatu yang samar atau tidak jelas, atau bahkan meragukan dalam ilmu
yang bersumberkan dari ajaran agama yang bersumber dari Zat Yang Maha Benar, Maha
berilmu dan disampaikan oleh para Rasul yang mempunyai sipat kejujuran prima,
amanah yang sempurna, tabligh nan penuh kasih sayang serta patonah yang
bijaksana, ada kecerdasan dan keparipurnaan ilmu pengetahuan.
Pendapat Al-Ghazali (Abu
Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir
di Thus; 1058 / 450 H –
meninggal di Thus; 1111 / 14
Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) tentang
keistimewaan Al Qur’an dan perbedaannya dengan perkataan-perkataan lainnya. Dalil-dalil
Al Qur’an adalah laksana makanan yang bermanfaat bagi setiap manusia, sedangkan
ucapan-ucapan lainnya hanyalah sebagai obat yang terkadang bisa menyembuhkan
beberapa orang saja, namun kebanyakan manusia dicelakakannya. Dalil-dalil Al
Qur,an adalah laksana air yang dimanfaatkan oleh semua orang, bayi, anak-anak
dan orang kuat, sedangkan ucapan-ucapan lainnya hanyalah makanan yang terkadang
bermanfaat bagi orang-orang kuat namun membahayakan yang lainnya.[22]
Bila kita membaca sejarah masuk atau
tertariknya orang terhadap Al Qur’an bukan saja kehalusan dan kesempurnaan ayat
dan kandungannya, tetapi yang lebih mendasar adalah apa yang disampaikan melalui
ayat-ayat sangat menyentuh kalbu dan jiwa seseorang. Coba lihat Umar bin al-Khattab sebelum masuk
islam seorang yang kasar prilakunya, keras hati dan temperamental, bahkan acap
kali berbuat melampaui batas. Tetapi setelah mendengar ayat-ayat Al Qur’an yang
di dengarnya langsung, serta merta tertarik dan merubah sikap hidupnya secara
total, bersih hati dan akidahnya sebening embun pagi.
4. Teori dan
Praktek
Ilmu adalah seperti yang kita ketahui
bisa mengandung arti rangkaian teori, dimana dapat membawa manpaat dan
menghasilakan keberuntungan bagi manusia ketika mereka mengamalkan ilmu
tersebut dalam kehidupan. Banyak kita jumpai dalam kitab Al Qur’an kata “Amanu”
selalu dirangkaikan dengan “Amilu”, jadi tidak cukup percaya,tetapi harus ada
realisasinya berupa amal atau karya. Rasul
menjadi mulia dan disegani para sehabat,
karena Beliau
selalu menjadi
orang pertama yang mengamalkan suatu hukum atau didikan. Begitulah sosok guru
atau profesi lain yang banyak mempengaruhi orang lain, harus menjadi contoh dan
teladan dengan cara lebih awal berbuat dibanding dengan orang lain. Secara psikis
tentunya bisa jadi orang lebih yakin dengan apa yang kita sampaikan, karena
pancaran ilmunya dapat menggugah orang lain. Tentunya dari Al Qur’an dan Al Hadits
dapat kita ketahui betapa teori dan praktek ilmu agama itu saling melengkapi,
tidak dapat dipisahkan. Al Qur’an memberikan aturan hukum ( teori ),
pelaksanaannya (praktek ) melalui diri Rasul
. Jika tidak,
apalah jadinya jika melakukan sesuatu perbuatan tanpa adanya tuntunan atau
teori, atau sebaliknya tiori saja, tetapi tidak ada realisasinya juga tidak
mendatangkan manpaat.
5. Menjelma Dalam Sosok Manusia
Ilmu tidak sekedar lembaran yang tertlulis dalam buku atau kitab yang berjumlah
ribuan jilid, namun harus juga tertanam dalam sanu bari manusia dengan
pembuktian dalam perbuatan melalui para ulama atau pendidik. Oleh karena itu
ilmu akan hilang berbarengan atau seiring dengan meninggalnya para ulama.
-
أخبرنا العباس بن الفضل بن شاذان المقري أبو القاسم، حدثنا
عبد الرحمن بن عمر الأصفهاني رسته، حدثنا ابن أبي عدي، حدثنا محمد بن هشام بن عروة،
عن أبيه، عن جده عن عبد الله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
"إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى
إذا لم يبق عالما، اتخذ الناس رؤساء جهالا، فسئلوا، فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا".
وأخرجه أحمد 2/162 و190، والبخاري 100 في العلم: باب كيف يطلب العلم،
ومسلم 2673 13 في العلم: باب رفع العلم وقبضه، والترمذي 2652 في العلم: باب ما جاء
في ذهاب العلم، وابن ماجة 52 في المقدمة، والدارمي 1/77، والبغوي 147، وابن عبد البر
في "جامع بيان العلم وفضله" 1/148-149 و150 من طرق عن هشام بن عروة، بهذا
الإسناد. وقال الترمذي: حديث حسن صحيح.
.
Artinya “Sesungguhnya
Allah SWT tidak mengambil ilmu dengan jalan mencabut yang Ia mencabutnya dari
manusia, akan tetapi Ia mencabut ilmu itu dengan mencabut Ulama, sehingga
apabila Ia tidak memasihkan seorang alimpun maka manusia menjadikan orang-orang
yang bodoh pemuka-pemuka( pemimpin), maka apabila pemuka-pemuka itu ditanya
(urusan agama) mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka itu sesat lagi
menyesatkan”[23]
Abdullah bin Mas’ud berkata kepada para
sehabat-sehabatnya “ Tahukah kalian, bagaimanakah berkurangnya ajaran Islam ?”
mereka menjawab “ laksana lunturnya warna pakaian, seperti menyusutnya lemak
binatang dan seperti berkurangnya nilai dirham yang lama terpendam “ Ibnu
Mas’ud berkata “ Itu masih kecil dibanding dengan hilangnya atau wafatnya para
ulama” [24]
6.
Lengkap, tidak perlu penyempurnaan
Karena meteri tersebut diturunkan dari Allah
. Sebagai
Pencipta Syariat dan diturunkannya untuk kemaslahatan manusia, maka sudah jelas
bahwa ajarannya lengkap, sehingga tidak perlu adanya penambahan atau penguragan
atau koreksi di dalamnya dari manusia atau lainnya, sebab semua materi yang
terdapat didalamnya sudah sempurna dan pasti serta mutlak kebenarannya.
Lain halnya dengan konsep atau materi
yang dibuat oleh manusia kebenarannya tidak sempurna dan bisa berubah-ubah.
Satu masa bisa jadi benar karna situasinya mendukung, tetapi pada masa
berikutnya sudah usang dan ditinggalkan oleh manusia itu sendiri. Maka
terjadilah penambahan atau pengurangan agar selalu upto date dengan zamannya.
Seorang sehabat dan sekaligus ilmuan islam Abdullah ibn
Abbas berkata “ Kebenaran itu bersumber dari kitabullah dan sunnah RasulNya,
maka barang siapa yang mengatakan sesuatu berdasarkan pemikirannya ( pendapat )
sendiri, aku tidak tahu, kebaikan atau kejelekan yang akan diperolehnya[25]
Penulis memang tidak memuat semua
tentang bagaimana Baginda Rasul
menyampaikan materi pelajaran dan da’wahnya
ditengah masyarakat.
Namun yang
paling pokok diingat adalah betapa beliau sangat bijaksana, kasih sayang,
toleransi yang tinggi, komonikatif, menghargai orang lain, murah senyum, tidak
pemarah dan selalu membimbing, mendatangkan rasa simpati dan sipat-sipat
terpuji lainnya.Jadi komonikasi atar murid dengan guru sangat terlihat, proses
belajar-mengajar berlangsung sepanjang pembelajaran, tidak terputus sehingga
selalu berhasil dalam menyampaikan materi.
G.
PENUTUP
Islam sebagai agama wahyu yang
diturunkan Allah SWT melalui para Rasulnya sudah pasti memberikan yang
terbaik kepada mahluknya dalam menata kehidupan dunia yang serba singkat ini,
baik dunia terlebih akhirat yang merupakan akhir dari perjalanan manusia.
Kesuksesan yang diperoleh di dua tempat tersebut sangat
dipengaruhi oleh kwalitas keilmuan yang dimiliki manusia. Sementara kwalitas
ilmu itu sangat didasari oleh bagaimana cara ilmu itu di dapat, salah satunya
methode.
Methode Tarhib dan Targhib yang telah di
uraikan diatas ternyata sangat berpengaruh atau berdampak positif terhadap
perkembangan dan kwalitas proses belajar yang dilakukan seorang pendidik.
Seorang siswa bukan saja matang dalam kwalitas keilmuan yang diperoleh, tetapi
mentalnya terus ditempa sehingga terbentuk ahlak yang baik sebagai
seorang ilmuan dimasa mendatang. Oleh karena itu methode Tarhib dan Targhib
yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadis telah lama diimplementasikan Rasulallah
yang di teruskan oleh para Sehabat sampai sekarang oleh para tokoh pendidikan
Islam sangat perlu sekali dipertahankan dan dijadikan salah acuan pokok dalam
metode peroses belajar.
Sudah saatnya para pendidik Muslim
lebih memperdalami methode Tarhib dan Targhib, jangan terlalu tertarik dengan
metode barat yang lebih mengutamakan keberhasilan aspek kognitif atau
kepandaian saja. Kita memerlukan generasi yang kuat keintelektualannya dan
kokoh pula Iman atau rohaninya.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an
dan terjemahannya
Arief, Armai,
Pengantara ilmu dan metodologi Pendidikan Islam , Jakarta, Ciputat
Press, 2000
Al Nahlawi,
Abd. Rahman, Usul Al- Tarbiyah Al –Islamiyah wa Asalibuhu fil
al
Bayt wa Al- Madrasah wa Al- Mujtama, Beirut, Daar Al Fikri,(terjemahan)
Ali Badawi, Ahmad, Imbalan dan Hukuman, Pengaruhnya bagi
Pendidikan Anak,
Jakarta, Geman Insani, 2000
Anwar, Qomari, Pendidikan Sebagai Karakter Budaya Bangsa,
Jakarta, Uhamka
Press, 2003
Amir, Ja’far, Dua Ratus Hadist Pilihan, Semarang, Toha
Putra, 1975
Al-Qozwaini, Al Hafiz Abu Abdullah Muhammad ibn Yazid,
Sunan Ibnu Majah
Tahqiq Muhammad Fuad Abd. Baqi, Beirut, Daar Ulum – Al- Turast Al-
Arabi, 1975
Al- Kandahlwi, Muhammad Ibn Yusuf, Hayatush As-Syahabah,
Daran Nasir,
Mesir, dan Naskah-naskah lainnya dari Al Ustaz Abu Hasan Ali Hasani
An Nadawi, Dar Al-Qolam, Beirut, Tashih Asy-Syaikh Nayif ibn Abbas dan
Muhammad Ali Daulah, 1969
Al- Bajuri, Muhammad Nasyiruddin, Sohih Jami’ Shogier,
Beirut, Al Maktab
Al- Islami
Muthahhari, Murthada, Membumikan Kitab Suci, manusia dan
Agama, Jakarta,
Mizan, 2007
Nasih Ulwan, Abdullah, Pendidikan Anak Dalam Islam,
Jakarta, Pustaka Amini,
Jamaluddin M ( terjemahan) 1994
Noer Ali, Herry, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos,
1999
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Prioritas dan Praktis,
Bandung, 1994
Ra’fat Said, Muhammad, Ar-Rasul Al- Muallim wa Manhajul
Fit Ta’lim, Jakarta
Cv Firdaus, Amir Hamzah, Zainal Arief Fachruddin ( terjemahan)
Syaihk Muhammad ibn Jamil Zainu, Seruan Kepada Pendidik
dan orang tua,
Salam, Abu Hanan dan Ummu Dzakiyah ( terjemahan )
2005
[1] Qomari anwar, Pendidikan sebagai karakter budaya bangsa,
jakarta, uhamka press, 2003, cet. ke I hal.42
[4] Ahmad Ali Badawi, Imbalan dan
hukuman: Pengaruhnya bagi pendidikan Anak, Jakarta, ,Gema Insani Pres
2000, hal. 4
[7] Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu,
Seruan Kepada Pendidik dan Orang tua, Abu Hanan dan Ummu Dzakiyyah (terjemah )
Solom, 2005, hal. 167
[8] Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan
Anak dalam Islam, Jamaludin Miri, Jakarta,Pustaka Amani,1994 hal.325 (
terjemahan)
[10] Abd.al Rahman al Nahlawi. Usul al
Tarbiyah al Islamiyah wa Asalibuha fi al bayt wa al madrasah wa al mujtama ,
Beirut, Daar al Fikri 2001 , hal 287
[16] Dr. Muhammad Ra’fat Said, Ar-Rasul Al-Mu’allim wa
Manhajuhu Fit Ta’lim Firdaus, jakarta, Cv Firdaus ,hal 30 ,th.1993 (
terjemahan- Amir Hamzah Fachrudin , Zainal Arif Fachrudin RM )
[24] Al Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al
Qazwaini,Sunan Ibnu Majah, Tahqiq Muhammmad Fuad Abdul Baqi.Beirut, Daar Ihyam
At- Turats Al- Arabi, 1975/1395
[25] Muhammad ibn Yusuf Al- Kandahluwi, Hayatu
Ash-Shahabah, Daran Nashir, Mesir, Dan naska-naskah lainnya dari Al-Ust.Abu
Hasan Ali Al Hasani An-Nadawi, Dar Al-Qolam, Beirut, Tashih Asy-Syaikh Nayif
ibn Al-Abbas dan Muhammad Ali Daulah, cet I 1969/1389
Langganan:
Postingan (Atom)