Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan Muslim
(Sebuah
Kajian Aksiologis)
A.
Pokok
Masalah
Dalam sejarah kehidupan manusia ilmu telah menjadi aktor
utama dalam membangun peradaban manusia sampai akhirnya dapat berbentuk
peradaban semegah saat ini. Ilmu telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia
dalam memenuhi kebutuhannya dalam segala aspek kehidupan. Dengan kata lain,
kehadiran ilmu telah merubah wajah dunia dari periode kuno[1]
sampai periode kontemporer[2].
Alhasil, dengan kemajuan ilmu manusia dapat memberantas penyakit, memakai alat transportasi[3],
membangun sarana irigasi[4],
membangun sarana pemukiman, menikmati kemudahan komunikasi jarak jauh dan lain
sebagainya.
Kemudian timbul pertanyaan, apakah ilmu selalu merupakan berkah[5]
dan penyelamat bagi manusia? Dan memang sudah terbukti, dengan kemajuan ilmu
pengetahuan manusia dapat menciptakan berbagai bentuk teknologi[6].
Misalnya, pembuatan bom[7]
yang pada awalnya untuk memudahkan kerja manusia, namun kemudian dipergunakan
untuk hal-hal yang bersifat negatif[8]
yang menimbulkan malapetaka[9]
bagi manusia itu sendiri, seperti yang terjadi di Palu, Kantor Kedutaan
Australia dan Bali baru-baru ini dan menciptakan senjata kuman yang dipakai
sebagai alat untk membunuh sesama manusia. Di sinilah ilmu harus diletakkan
secara proporsional[10]
dan memihak pada nilai-nilai kebaikan dan dan kemanusiaan. Sebab, jika
ilmu tidak berpihak pada nilai-nilai, maka yang terjadi adalah bencana dan
malapetaka.
Pengembangan dan pemakaian ilmu yang tidak di kontrol oleh
apapun (baca agama, etika dan moral) dan tidak mengindahkan kerusakan yang
dibawanya ke masyarakat, justru akan mengembalikan manusia pada habitat[11]
sebenarnya yaitu dunia binatang, di mana di dalam dunia binatang tidak
berlaku hukum apapun (hukum rimba). Saling membunuh, memangsa dan dominasi yang
terkuat merupakan pemandangan sehari-hari yang biasa ditemukan. Akankah dunia
manusia seperti itu?
Menurut Baktiar bahwa ilmu pengetahuan yang begitu
dibanggakan pada suatu saat dapat meruntuhkan suatu peradaban dan menimbulkan
bencana bagi manusia. Contohnya, kematian ratusan ribu rakyat Jepang ketika bom
atom dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Penemuan teknologi atom
di satu sisi mendatangkan dampak yang baik, di sisi lain dapat menimbulkan bencana.
Karena itu, seorang ilmuwan kalau tidak mempunyai komitmen moral terhadap nilai
kemanusiaan, dia bisa berbuat dengan bebas tanpa batas. Dia tidak
mempermasalahkan apakah teknologi yang dihasilkannya digunakan untuk hal yang konstruktif[12]
atau yang destruktif[13]
. Di sini moral[14]
sebagai ajaran dasar agama sangat diperlukan. Hukuman yang diterima oleh para
ilmuwan yang menyalahgunakan penemuannya, tidak saja kutukan[15]
dari umat manusia, tetapi juga kutukan dari Tuhan. Kalau ancaman dari Tuhan ini
dapat ditanamkan lebih kuat dalam hati ilmuwan, niscaya tidak seorang pun ilmuwan
yang menyalahgunakan ilmu dan teknologi.
Terkait dengan di atas, Islam
sebagai agama telah banyak memberikan petunjuk tentang eksistensi ilmu,
arah pengembangan ke depan dengan tetap memperhatikan etika keilmuan dan
tanggungjawab sosial. Terlebih lagi
Islam (yang di dalamnya al-Qur’an) merupakan ensiklopedia[16]
ilmu pengetahuan – sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Jadi, dalam
dunia Islam[17]
al-Qur’an[18]
merupakan landasan moral dan etika[19]
dalam pengembangan keilmuan agar ilmu dan teknologi yang dihasilkan tepat guna
dan maslahat bagi peradaban manusia. Dan apapun yang dilakukan untuk
pengemabangan ilmu pengetahuan berlandaskan pada prinsip ibadah[20]
untuk mendapatkan ridha-Nya.
Dari
realita dalam wacana di atas, penulis tertarik mengangkat tentang etika
keilmuan dan tanggungjawab[21]
sosial[22]
ilmuwan Muslim[23].
Topik tersebut merupakan sebuah kajian aksiologis tentang nilai dan kegunaan
ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Semoga dengan makalah ini sedikit
mampu memberikan kontribusi positif dalam pengembangan keilmuan kita. Untuk
lebih jelasnya akan dideskripsikan pada pembahasan berikut ini.
B.
Analisis
Pembahasan
Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan[24]
Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan[24]
Perkembangan
dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi
manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun apakah hal itu selalu
demikian? Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologinya merupakan berkah dan
penyelamat bagi manusia, terbebas dari kutukan yang membawa malapetaka dan
kesengsaraan? Memang dengan jalan mempelajari teknologi seperti pembuatan bom
atom, manusia bisa memanfaatkan wujudnya sebagai sumber energi[25]
bagi keselamatan manusia, tetapi di pihak lain hal ini bisa juga berakibat
sebaliknya, yakni membawa manusia kepada penciptaan bom atom yang menimbulkan
malapetaka.
Menghadapi
hal yang demikian, ilmu pengetahuan yang pada esensinya mempelajari alam
sebagaimana adanya, mulai dipertanyakan untuk apa sebenarnya ilmu itu harus
dipergunakan? Untuk menjawab pertanyaan seperti itu, apakah para ilmuwan harus
berpaling ke hakikat moral? Bahwa ilmu itu berkaitan erat dengan persoalan
nilai-nilai moral. Keterkaitan ilmu dengan nilai-nilai moral (agama) sebenarnya
sudah terbantahkan ketika Copernicus[26]
mengemukakan teorinya “bumi yang berputar mengelilingi matahari” sementara
ajaran agama (Kristen) menilai sebaliknya, maka timbulah interaksi antara ilmu
dengan moral yang berkonotasi metafisik, sedangkan di pihak lain, terdapat
keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam
ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan, diantaranya agama. Timbullah konflik
yang bersumber pada penafsiran metafisik ini, yang berkulminasi pada pengadilan
inkuisisi Galileo[27],
yang oleh pengadilan dipaksa untuk mencabut pernyataannya bahwa bumi berputar mengelilingi
matahari. Pengadilan inkuisisi Galileo ini selama kurang lebih dua setengah
abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa. Dalam kurun waktu ini,
para ilmuwan berjuang untuk menegakkan ilmu berdasarkan penafsiran alam
sebagaimana adanya dengan semboyan “ilmu yang bebas nilai”, setelah pertarungan
itulah ilmuwan mendapatkan kemenangan dengan memperoleh keotonomian ilmu.
Artinya kebebasan dalam melakukan penelitiannya dalam rangka mempelajari alam
sebagaimana adanya.
Setelah
ilmu mendapatkan otonomi[28]
yang terbebas dari segenap nilai yang bersifat dogmatis[29],
ilmu dengan leluasa dapat mengembangkan dirinya baik dalam bentuk abstrak
maupun konkret seperti teknologi. Teknologi tidak
diragukan lagi manfaatnya bagi manusia. Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana
dengan teknologi yang mengakibatkan proses dehumanisasi[30]
dan kerusakan lingkungan sekitar, apakah ini merupakan masalah
kebudayaan ataukah masalah moral, apabila teknologi itu menimbulkan ekses yang
negatif terhadap masyarakat.
Dihadapkan
dengan masalah moral dalam ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, para
ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat. Golongan pertama berpendapat
bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu
secara ontologis[31]
maupun aksiologis[32].
Dalam hal ini ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang
lain untuk mempergunakannya, apakah akan dipergunakan untuk tujuan yang baik
ataukah untuk tujuan yang buruk. Diantara cirri-ciri positivism adalah bahwa
ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang “bebas nilai” atau “netral”
atau “objektif”. Inilah yang menjadi
dasar filosofis pemikiran positivism. Paham ini mencoba memberigaris demarkasi[33]
antara fakta dan nilai. Fakta berdiri berdiri sendiri di luar nilai.(filsafat
ilmu persfektif Barat dan Islam, oleh; DR. Adian Husaini, hal. 234-235)
Golongan
kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah
terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya
haruslah berlandaskan nilai-nilai moral. Ilmuan yang paling aktif dan banyak di
kutip pendapatnya tentang ketidakbebasan ilmu
adalah Thomas S Kuhn, seorang ilmuan fisika dan sejarawan filsafat ilmu.
Ia berpendapat bahwasanya ide netralitas ilmu atau bebas nilai hanyalah sekedar
ilusi,( DR. Adian Husaini, hal. 238). Golongan kedua mendasarkan
pendapatnya pada beberapa hal, yakni:
1.
Ilmu
secara faktual[34]
telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia, yang
dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan
teknologi-teknologi keilmuan.
2.
Ilmu
telah berkembang dengan pesat dan makin esoteric hingga kaum
ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi
penyalahgunaan.
3.
Ilmu
telah berkembang sedemikian rupa di mana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat
mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi
genetika dan teknik perubahan sosial.
Berdasarkan
ketiga hal di atas, maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral
harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah
hakikat kemanusiaan. Ilmu secara aksiologis harus senantiasa menjunjung tinggi
nilai kemanusiaan dan efeknya terhadap kerusakan lingkungan.
Dari dua
pendapat golongan di atas, kelihatannya netralitas ilmu terletak pada epistemologisnya
saja, artinya tanpa berpihak kepada siapapun, selain kepada kebenaran yang
nyata. Sedangkan secara ontologis dan aksiologis,
ilmuwan harus mampu menilai mana yang baik dan mana yang buruk, yang pada
hakikatnya mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral atau landasan
etika dan estetika yang kuat sebagai penuntun dalam berkarya dan
berinovasi. Tanpa ini seorang ilmuwan akan lebih merupakan seorang momok
yang paling menakutkan yang dapat membuat dunia semakin berantakan.
Etika
keilmuwan merupakan etika normatif yang merumuskan prinsip-prinsip etis yang
dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu
pengetahuan. Tujuan etika keilmuan dapat menerapkan prinsip-prinsip moral,
yaitu yang baik dan menghindarkan dari yang buruk ke dalam prilaku keilmuannya,
sehingga ia dapat menjadi ilmuwan yang mempertanggungjawabkan perilaku
ilmiahnya. Etika normatif menetapkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian
penilaian terhadap perbuatan-perbuatan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa
yang seharusnya terjadi serta menetapkan apa yang bertentangan dengan yang
seharusnya terjadi.
Pokok
persoalan dalam etika keilmuan selalu mengacu kepada elemen-elemen kaidah
moral, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai
dan norma yang bersifat utilitaristik (kegunaan). Hati nurani di sini
adalah penghayatan tentang yang baik dan yang buruk yang dihubungkan dengan
perilaku manusia.
Nilai dan
norma yang harus berada pada etika keilmuan adalah nilai dan norma moral. Lalu
apa yang menjadi kriteria pada nilai dan norma moral itu? Nilai moral tidak
berdiri sendiri, tetapi ketika ia berada pada atau menjadi milik seseorang, ia
akan bergabung dengan nilai yang ada seperti nilai agama, hukum, budaya,
dan sebagainya. Yang paling utama dalam nilai moral adalah yang terkait dengan
tanggung jawab seseorang. Norma moral menentukan apakah seseorang berlaku baik
ataukah buruk dari sudut etis. Bagi seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang
dimilikinya akan menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik
atau belum.
Penerapan
ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan, apakah itu berupa
teknologi, maupun teori-teori emansipasi masyarakat dan sebagainya itu,
mestilah memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai adat, dan
sebagainya. Ini berarti ilmu pengetahuan tersebut sudah tidak bebas nilai.
Karena ilmu sudah berada di tengah-tengah masyarakat luas dan masyarakat akan
mengujinya.
Oleh
karena itu, tanggung jawab lain yang berkaitan dengan penerapan teknologi di
masyarakat, yaitu menciptakan hal positif. Namun, tidak semua teknologi atau
ilmu pengetahuan selalu memiliki dampak positif ketika berada di tengah
masyarakat. Kadangkala teknologi berdampak negatif, misalnya masyarakat menolak
atau mengklaim suatu pandangan-pandangan yang telah ada sebelumnya, seperti
rekayasa genetika (cloning manusia) yang dapat dianggap bertentangan dengan
kodrat manusia atau ajaran agama. Dalam persoalan ini perlu ada penjelasan
lebih lanjut. Bagi seorang ilmuwan apabila ada semacam kritikan terhadap ilmu
harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas
dan metodologis yang tepat.
Di bidang
etika, tanggung jawab seorang ilmuwan, bukan lagi memberi informasi namun harus
memberi contoh. Dia harus bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima
pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan kalau berani
mengakui kesalahan. Semua sifat ini, merupakan implikasi etis dari proses
penemuan kebenaran secara ilmiah. Di tengah situasi di mana nilai mengalami
kegoncangan, maka seorang ilmuwan harus tampil ke depan. Pengetahuan yang
dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Hal yang sama
harus dilakukan pada masyarakat yang sedang membangun, seorang ilmuwan harus
bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan contoh yang baik.
Kemudian
bagaimana solusi bagi ilmu yang terkait dengan nilai-nilai? Ilmu pengetahuan
harus terbuka pada konteksnya, dan agamalah yang menjadi konteksnya itu. Agama
mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yakni memahami realitas
alam dan memahami eksistensi Allah
,
agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidak
mengarahkan ilmu pengetahuan melulu pada praxis[35],
pada kemudahan-kemudahan material duniawi. Solusi yang diberikan oleh al-Qur’an
terhadap ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai adalah dengan cara
mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga ia menjadi
berkah dan rahmat kepada manusia dan alam bukan sebaliknya membawa mudharat.
Terkait dengan wacana di atas, bagaimana dengan Islam dalam hal etika keilmuan dan tanggung jawab sosial ilmuwan? Berdasarkan sejarah tradisi Islam ilmu tidaklah berkembang pada arah yang tidak terkendali, tetapi ilmu harus bergerak pada arah maknawi dan umat berkuasa untuk mengendalikannya. Kekuasaan manusia atas ilmu pengetahuan harus mendapat tempat yang utuh, eksistensi ilmu pengetahuan bukan melulu untuk mendesak kemanusiaan, tetapi kemanusiaanlah yang menggenggam ilmu pengetahuan untuk kepentingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada sang Pencipta.
Terkait dengan wacana di atas, bagaimana dengan Islam dalam hal etika keilmuan dan tanggung jawab sosial ilmuwan? Berdasarkan sejarah tradisi Islam ilmu tidaklah berkembang pada arah yang tidak terkendali, tetapi ilmu harus bergerak pada arah maknawi dan umat berkuasa untuk mengendalikannya. Kekuasaan manusia atas ilmu pengetahuan harus mendapat tempat yang utuh, eksistensi ilmu pengetahuan bukan melulu untuk mendesak kemanusiaan, tetapi kemanusiaanlah yang menggenggam ilmu pengetahuan untuk kepentingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada sang Pencipta.
Lebih
lanjut, bahwa dalam pandangan Islam tujuan ilmu sama dengan tujuan
agama, yaitu untuk kesejahteraan umat manusia. Karena ilmu memiliki
perhatian besar terhadap pendidikan jiwa manusia dan pertumbuhannya, serta
menghendaki kepribadian yang luhur. Dan orang yang mencari ilmu sama dengan
orang yang mencari hakikat kebenaran.
Seperti yang dijelaskan Al-Maududi[36] dalam Islamic Way of Life, bahwa sistem moral Islam itu memiliki ciri-ciri yang komprehensif yang berbeda dengan sistem moral lainnya. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut:
Seperti yang dijelaskan Al-Maududi[36] dalam Islamic Way of Life, bahwa sistem moral Islam itu memiliki ciri-ciri yang komprehensif yang berbeda dengan sistem moral lainnya. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut:
1.
Keridhaan
Allah
merupakan tujuan hidup Muslim dan merupakan
sumber standar moral yang tinggi serta menjadi jalan bagi evaluasi moral
kemanusiaan. Sikap mencari ridha Allah
memberikan sanksi moral untuk mencintai dan
takut kepada-Nya, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk mentaati hukum
moral tanpa paksaan dari luar. Dengan dilandasi iman kepada Allah dan hari
kiamat, manusia terdorong untuk mengikuti bimbingan moral secara
sungguh-sungguh dan jujur, seraya berserah diri secara ikhlas kepada Allah.
2.
Semua
lingkup kehidupan manusia senantiasa ditegakkan di atas moral islami sehingga
moral tersebut berkuasa penuh atas semua urusan kehidupan manusia, sehingga
hawa nafsu dan kepentingan pribadi tidak diberi kesempatan untuk menguasai
kehidupan manusia. Moral Islam mementingkan keseimbangan dalam semua aspek
kehidupan, baik individul maupun sosial.
3.
Islam
menuntut manusia agar melaksanakan sistem kehidupan yang berdasarkan atas
norma-norma kebajikan dan jauh dari kejahatan.
Dengan demikian sistem moral dalam Islam berpusat pada sikap mencari ridha Allah
, mengedalikan nafsu negatif dan kemampuan
berbuat kebajikan serta menjauhi perbuatan keji dan jahat. Islam sangat
mementingkan kemaslahtan umat dalam segala aspek kehidupan manusia. Jadi,
sangat salah apabila ada statemen bahwa Islam adalah agama yang senang
kekacauan dan peperangan.
Islam adalah manifestasi dari Al-Qur’an dan ajaran Nabi
(Sunnah) yang menekankan akan pencarian ilmu
pengetahuan dan penggunaannya pada jalan kebajikan. Pada saat yang sama Islam
berusaha memecahkan kesatuan pemikiran dalam masalah-masalah ekonomi, politik,
ilmu pengetahuan dan teknologi, agama dan masyarakat. Epistimologi Islam
merupakan matriks bahwa semua elemen-elemennya berada dalam satu orientasi yang
didasarkan atas jiwa manusia. Dengan kata lain, bahwa Islam merupakan
totalitas, sebuah agama, sistem budaya dan juga peradaban. Dan sebagai sistem
holistik, Islam menyentuh setiap aspek upaya kemanusiaan. Etika Islam dan
sistem nilainya melalui sistem aktifitas kemanusiaan. Dan di samping itu Islam
juga memilki perspektif definisi atas ilmu pengetahuan dan teknologi baik
secara filosofis, sosiologis maupun metodologis.
Dalam aplikasinya, manusia dituntut menggunakan pengetahuannya tidak hanya untuk mengenal Tuhannya saja, tetapi juga untuk memberikan pelayanan kepada manusia sebaik mungkin. Pengetahuan tentang Tuhan tidak berdasarkan atas kepercayaan yang buta, tetapi atas dasar pengetahuan terhadap hukum-hukum-Nya yang universal. Oleh sebab itu, alam harus dipelihara sebaik mungkin bagi kepentingan manusia. Segala ilmu yang dipraktikan harus memiliki landasan ilmiah, sebab perbuatan tanpa dilandasi ilmu hanya akan menjadikan naif dan riskan. Hal inilah yang menjadikan motif adanya keharusan menuntut ilmu, sehingga manusia (Muslim) tidak akan berbuat tanpa adanya ilmu.
Sehubungan dengan hal di atas, Islam juga sangat mengecam orang yang mengatakan sesuatu, mengerti akan ajaran-ajaran Islam, tetapi tidak melaksanakannya, sebagaimana diterangkan dalam surat Ash-Shaff ayat 3.
Dengan demikian sistem moral dalam Islam berpusat pada sikap mencari ridha Allah
Islam adalah manifestasi dari Al-Qur’an dan ajaran Nabi
Dalam aplikasinya, manusia dituntut menggunakan pengetahuannya tidak hanya untuk mengenal Tuhannya saja, tetapi juga untuk memberikan pelayanan kepada manusia sebaik mungkin. Pengetahuan tentang Tuhan tidak berdasarkan atas kepercayaan yang buta, tetapi atas dasar pengetahuan terhadap hukum-hukum-Nya yang universal. Oleh sebab itu, alam harus dipelihara sebaik mungkin bagi kepentingan manusia. Segala ilmu yang dipraktikan harus memiliki landasan ilmiah, sebab perbuatan tanpa dilandasi ilmu hanya akan menjadikan naif dan riskan. Hal inilah yang menjadikan motif adanya keharusan menuntut ilmu, sehingga manusia (Muslim) tidak akan berbuat tanpa adanya ilmu.
Sehubungan dengan hal di atas, Islam juga sangat mengecam orang yang mengatakan sesuatu, mengerti akan ajaran-ajaran Islam, tetapi tidak melaksanakannya, sebagaimana diterangkan dalam surat Ash-Shaff ayat 3.
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(3)
Karena itu sebagai janji Allah
dalam
al-Qur’an (lihat QS. Al-Mujadilah ayat 11), bahwa jaminan keunggulan dan
superioritas, termasuk kemenangan dan kesuksesan akan dikaruniakan Allah
kepada
mereka yang beriman dan berilmu. Beriman dalam arti mempunyai arti ketuhanan
dalam hidupnya dengan menjadikan perkenan Tuhan sebagai tujuan segala
kegiatannya. Dan berilmu berarti mengerti ajaran secara benar dan memahami
lingkungan hidup di mana ia akan berkiprah, sosial budaya dan fisik, seperti
ilmu yang dikaruniakan Allah
kepada
Adam
sebagai bekal mengemban kekhalifahannya di
bumi. (lihat QS. Al-Baqarah ayat 31).
وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِينَ (31
Iman harus menyatu dalam diri seseorang, sebab
jika tidak justru akan membuat malapetaka, bahkan lebih celaka daripada orang
yang berilmu.
Selanjutnya, tentang tujuan ilmu pengetahuan, ada beberapa perbedaan pendapat antara filosof dengan ulama’. Sebagian berpendapat bahwa pengetahuan sendiri merupakan tujuan pokok bagi orang yang menekuninya, dan mereka ungkapkan tentang hal ini dengan ungkapan, ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan, seni untuk seni, sastra untuk sastra dan lain sebagainya. Menurut mereka ilmu pengetahuan hanyalah sebagai objek kajian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sendiri. Sebagian yang lain, cenderung berpendapat bahwa tujuan ilmu pengetahuan merupakan upaya para peneliti atau ilmuwan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menambahkan kesenangan manusia dalam kehidupan yang sangat terbatas di muka bumi ini, ilmu pengetahuan itu utuk meringankan beban hidup manusia atau untuk membuat manusia senang, karena dari ilmu pengetahuan itulah yang nantinya akan melahirkan teknologi. Teknologi jelas sangat dibutuhkan oleh manusia utuk mengatasi berbagai masalah, seperti kebutuhan pangan, sandang, energi, kesehatan, dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat yang lainnya cenderung menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan.
Selanjutnya, tentang tujuan ilmu pengetahuan, ada beberapa perbedaan pendapat antara filosof dengan ulama’. Sebagian berpendapat bahwa pengetahuan sendiri merupakan tujuan pokok bagi orang yang menekuninya, dan mereka ungkapkan tentang hal ini dengan ungkapan, ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan, seni untuk seni, sastra untuk sastra dan lain sebagainya. Menurut mereka ilmu pengetahuan hanyalah sebagai objek kajian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sendiri. Sebagian yang lain, cenderung berpendapat bahwa tujuan ilmu pengetahuan merupakan upaya para peneliti atau ilmuwan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menambahkan kesenangan manusia dalam kehidupan yang sangat terbatas di muka bumi ini, ilmu pengetahuan itu utuk meringankan beban hidup manusia atau untuk membuat manusia senang, karena dari ilmu pengetahuan itulah yang nantinya akan melahirkan teknologi. Teknologi jelas sangat dibutuhkan oleh manusia utuk mengatasi berbagai masalah, seperti kebutuhan pangan, sandang, energi, kesehatan, dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat yang lainnya cenderung menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan.
C.
Etika
Keilmuan dan Tanggung Jawab Sosial Ilmuan dalam Analisa Penulis
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam abad terakhir
ini memang terasa pesat. 100 tahun yang lalu belum terbayangkan manusia mampu
mengelilingi dunia dalam waktu 24 jam. Abad ke 18 belum terbayangkan munculnya
media elektronik seperti televisi dan komputer. Teknologi transportasi dan
informasi begitu cepat berkembangnya. Perkembangan teknologi dalam berbagai
bidang berkembang pesat sejak munculnya penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan
teknologi di barat sejak abad 17.
Penemuan ilmiah yang dimulai sejak abad ke-17 telah
membuka wawasan baru bagi umat manusia. Penemuan-penemuan itu telah memberikan
kemudahan bagi manusia dalam beraktifitas dan memenuhi kebutuhan hidupnya,
namun pada akhirnya dengan kemudahan-kemudahan tersebut telah mengubah pola
hidup masyarakat dalam berbagai aspek dan terjadinya benturan nilai lama dengan
nilai baru. Apalagi pada abad 21 ini perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semakin pesat dibarengi dengan penemuan-penemuan yang semakin
mutakhir.
Satu kenyataan yang menjadi permasalahan serius sebagai
akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu adanya pola hidup
masyarakat yang cenderung destruktif dan hedonis. Penyalahgunaan ilmu
pengetahuan dan teknologi pada hal-hal yang sangat merugikan kehidupan manusia
dan lingkungan dan cenderung tidak memperhatikan norma yang ada.
Dilematis memang, di satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi telah banyak memberikan kemudahan. Tetapi di sisi lain, kemajuan ilmu
dan teknologi telah membuat chaos (kekacauan) yang berkepanjangan dalam sejarah
kehidupan manusia. Ini disebabkan karena ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap
bebas nilai. Bukan hal yang tidak mungkin jika ilmu pengetahuan dan teknologi
bebas nilai, suatu saat akan membuat peradaban dunia hancur.
Agama dan ilmu pengetahuan menghadapi persoalan yang cukup
rumit ketika berhadapan dengan situasi yang demikian. Satu sisi ilmu
pengetahuan di Barat berkembang dengan pesatnya, tetapi jauh dari jiwa agama,
sehingga yang terjadi adalah ilmu pengetahuan yang sekuler. Sebaliknya, di
Timur masyarakatnya taat beribadah, tetapi lemah moralnya, sehingga muncul
bentuk sekularisasi juga dalam umat beragama. Karena itu ada dua alternatif
untuk mengatasi persolan tersebut. Pertama, menyesuaikan filsafat dan
ilmu pengetahuan yang sekuler dengan ajaran agama, sehingga yang berkembang di
dunia bukan filsafat dan ilmu pengetahuan yang sekuler, tetapi filsafat dan
ilmu pengetahuan yang agamis. Kedua, mengutamakan pendidikan moral umat
beragama, sehingga tercipta umat yang berakhlak mulia.
Untuk menyikapi permasalahan tersebut, sebuah keniscayaan
juga bagi para ilmuwan untuk melakukan reorientasi visi dan misi dalam berkarya
dan berinovasi, sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan selalu
memberikan yang terbaik bagi peradaban dengan tetap memelihara aturan agama,
etika dan estetika. Hal tersebut karena ilmu itu tidak bebas nilai, di samping
ilmu pengetahuan dan teknologi berhadapan pada konteks kehidupan.
Etika atau moral dan estetika yang menjadi ajaran dasar agama harus tertanam dalam diri ilmuwan, supaya mereka mempunyai landasan moral dalam melakukan aktifitas keilmuannya, sehingga mereka mampu memberikan yang terbaik bagi umat dan lingkungan, serta mampu dipertanggungjawabkan di depan Allah
.
Terkait dengan pandangan di atas, dalam konteks Islam ilmu pengetahuan dan arah pengembangannya menuju kemaslahatan umat telah banyak di atur dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi
.
Bahkan orang yang mencari ilmu, mempunyai ilmu dan mengamalkannnya dengan baik
akan mendapatkan penghargaan istimewa dari Allah
.
Di dalam al-Quran, kata العلم diantaranya
tersebar dalam lima surah yaitu surah al-Ahqaf ayat 23,
Etika atau moral dan estetika yang menjadi ajaran dasar agama harus tertanam dalam diri ilmuwan, supaya mereka mempunyai landasan moral dalam melakukan aktifitas keilmuannya, sehingga mereka mampu memberikan yang terbaik bagi umat dan lingkungan, serta mampu dipertanggungjawabkan di depan Allah
Terkait dengan pandangan di atas, dalam konteks Islam ilmu pengetahuan dan arah pengembangannya menuju kemaslahatan umat telah banyak di atur dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi
قَالَ
إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ
وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ
Muhammad
ayat 16,
وَمِنْهُمْ مَنْ
يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ
أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آَنِفًا أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى
قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ
an-Najm
ayat 30
ذَلِكَ
مَبْلَغُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ
سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى
al-Mujadillah ayat 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ
اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ
آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
dan al-Mulk ayat 26.
قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ
عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Ayat-ayat tersebut berkaitan dengan ilmu Allah
tentang
segala sesuatu dan penghargaan Allah
kepada orang yang menguasai ilmu pengetahuan.
Hadits-hadits Rasulullah
yang menyatakan penghargaan terhadap ilmu
cukup banyak. Orang yang memilik ilmu dan mengajarkannya disamakan dengan
Rabbani yaitu orang yang memanfaatkan ilmunya untuk mendidik orang lain sampai
ia berperilaku dewasa.
Dalam pandangan Islam ilmu pengetahuan bernilai sakral[37]. Kesakralannya, karena berasal dari Allah
dan
mengfungsikannya untuk kepentingan umat mendapat gelar rabbani. Terjadinya
desakralasisasi ilmu pengetahuan karena memotong pengetahuan dari akarnya.
Ketika ilmu tidak kembali ke akarnya maka ilmu itu akan menjadi bebas nilai.
Dalam perspektif Islam, semua ilmu tolok ukur kebenarannya adalah al-Qur’an,
al-Sunnah dan realitas. Realitas dalam hal ini adalah sekaligus yang wujud,
pengetahuan dan kebahagiaan. Ilmu pengetahuan mempunyai hubungan yang mendalam
dengan realitas yang pokok dan primordial yaitu Yang Maha Suci, dan menjadi
sumber dari segala yang suci.
Dalam pandangan Islam ilmu pengetahuan bernilai sakral[37]. Kesakralannya, karena berasal dari Allah
Wawasan tentang Yang Maha Suci telah menghilang dari
konsepsi Barat tentang ilmu pengetahuan. Sementara dalam Islam menjadi teori
sentral al-Qur’an. Sesungguhnya yang membedakan cara berpikir Barat dan cara
berpikir Islam adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan dari cara berpikir yang
dilandasi keyakinan bahwa Allah
menjadi sumber dari semua yang maujud. Dan
dalam semua yang maujud itu termasuk ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tujuan
ilmu pengetahuan adalah kesadaran akan adanya Yang Maha Suci, maka ilmu harus
disertai dengan perbuatan yang bernilai suci supaya manusia terhindar dari
perbuatan tercela sebagai simbol kebodohan. Sekaitan dengan itu Allah
menyatakan:
قال انما العلم عندالله وابلغكم ما ارسلت به ولكني اريكم قوما
تجهلون (الاحقاف:23)
Artinya:
“Ia berkata “Sesungguhnya ilmu itu disisi Allah, dan saya menyampaikan
kepadamu apa yang ditugaskan kepadaku, dan aku melihat kamu adalah kaum yang
bodoh (al-Ahqaf : 23)
قال انما العلم عندالله وانما انا نذير مبين (الملك: 26)
Artinya: “Katakan, sesungguhnya ilmu itu di sisi Allah, sesungguhnya aku adalah pernberi peringatan yang menjelaskan” (al-Mulk: 26).
Lebih
lanjut, al-Qur’an dalam surat al-Baqarah ayat 31-34
قَالُوا
سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ
الْحَكِيمُ (32) قَالَ يَا آَدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا
أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
(33) وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا
إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (34)
secara gamblang menyatakan dalam bentuk sebuah
cerita bahwa pada awal penciptaan, Allah
mengajarkan kepada Adam
nama-nama benda. Adam
sebenarnya merupakan sebuah simbol manusia,
sedangkan “nama-nama benda” berarti unsur-unsur pengetahuan baik yang duniawi
maupun bukan duniawi. Ketika Allah
bertanya kepada malaikat mengenai nama-nama benda
yang diketahuinya, para Malaikat mengakui tidak mengetahuinya dan dengan tegas
mereka menyatakan kami tidak mengetahui, kecuali apa yang telah diajarkan Allah
kepada-Nya. Ketika Adam
diperintah Allah
, untuk menjelaskan nama-nama benda, Adam
dapat
menjelaskannya dengan sempurna. Kemudian Allah
memerintahkan supaya malaikat memberi hormat
kepada Adam
dan
mereka melakukannya, kecuali setan yang membangkang dan oleh karenanya mendapat
kutukan sebagai pengingkar dan pembangkang.
Kata memberi hormat (bersujud), merupakan simbol pengakuan atas keunggulan. Menarik untuk di-stressing bahwa keunggulan Adam
atas para malaikat, lebih disebabkan karena
pengetahuannya tentang nama-nama yang telah diajarkan kepadanya, dan bukan
karena kesalehan semata. Dalam hal kesalehan, malaikat lebih saleh dari pada
Adam
. Selain itu, wahyu pertama yang diterima oleh
Nabi Muhammad
yaitu
surat al-`Alaq adalah perintah untuk membaca. “Bacalah dengan nama Tuhan-mu”
(bacalah dengan nama Allah
). Perintah ini mengisyaratkan kewajiban
menuntut ilmu karena Allah
. Ini mengandung makna bahwa wawasan tentang
Yang Maha Suci yang memberi dasar hakiki bagi ilmu pengetahuan, harus menyertai
dan memberi inti proses pendidikan pada setiap tahapannya. Allah
tidak hanya berada di awal ilmu pengetahuan,
tetapi juga berada diakhirnya, menyertai dan memberkati keseluruhan proses
pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kata memberi hormat (bersujud), merupakan simbol pengakuan atas keunggulan. Menarik untuk di-stressing bahwa keunggulan Adam
Dalam
proses ini, wawasan tentang Yang Maha Suci tidak boleh dilupakan dan seluruh
proses serta aktifitas pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan hendaknya
dapat diarahkan untuk mengenal ke-Maha Sucian dan Kekuasaan-Nya. Seorang mukmin
mengetahui tentang Allah
hanya
melalui apa yang diwahyukan-Nya dalam al-Quran. Kitab suci itu merupakan sumber
otentik dari pengetahuan Allah
. Salah satu sifat Allah
yang disebutkan dalam al-Quran ada yang
berarti Yang Memiliki ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, memiliki pegetahuan
merupakan sifat Ilahi, mencari pengetahuan menjadi kewajiban setiap mukmin
dalam rangka mendekatkan diri.
Apabila setiap mukmin diwajibkan untuk mewujudkan sifat-sifat dalam keberadaannya, maka menjadi suatu keharusan bagi setiap mukmin mempercayai bahwa segala sesuatu yang ada bersumber dari Allah
, dan seraya berupaya mencari dan menyerap
sifat-sifat Allah
dalam
wujud mereka, termasuk pengetahuan, sehingga wawasan tantang Yang Maha Suci
sebagai sumber pengetahuan dalam kehidupannya dan menjadi darah dagingnya.
Memang, tidak semua sifat-sifat Allah
dapat diserap oleh manusia mengingat sifat
kodratinya yang terbatas dan berhingga. Akan tetapi setiap mukmin pasti dapat
memiliki sifat-sifat ilahy sebanyak yang diperlukan untuk pemenuhan dalam
realisasi diri. Salah satu diantaranya adalah pengetahuan, karena tanpa pengetahuan
pemenuhan diri tidak akan tercapai. Pengetahuanlah yang membedakan antara
manusia dan malaikat serta antara manusia dan makhluk yang lain. Dengan
pengetahuan seseorang dapat mencapai kebenaran, dan kebenaran (al-haq) adalah
nama lain dari Yang Riil dan Hakiki. Konsep kebenaran mengacu kepada
memfungsikan ilmu untuk mengarahkan diri supaya seseorang berkata dan
berprilaku sesuai dengan kebenaran.
Teori pengetahuan menurut Islam tidak hanya menonjolkan sudut yang khusus dari mana kaum muslimin memandang ilmu, tetapi menekankan keharusan untuk mencari ilmu. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perintah Allah
yang
pertama kepada Nabi melalui wahyu yang pertama adalah perintah membaca
dengan nama Allah
. Dari sudut pandang ini, membaca bukan hanya
menjadi pintu masuk menuju ilmu, tetapi juga cara untuk mengetahui dan
menyadari keberadaan Allah
sebagai sumber pengetahuan. Al-Qur’an
mewajibkan kaum muslimin menaklukan kekuatan-kekuatan alam untuk kebaikan umat
manusia, dan hal itu tidak mungkin terjadi tanpa memahami ilmu murni dan ilmu
terapan. Oleh sebab itu, ilmu mempunyai dua tujuan yaitu tujuan ilahiyah dan
tujuan duniawiyah.
Apabila setiap mukmin diwajibkan untuk mewujudkan sifat-sifat dalam keberadaannya, maka menjadi suatu keharusan bagi setiap mukmin mempercayai bahwa segala sesuatu yang ada bersumber dari Allah
Teori pengetahuan menurut Islam tidak hanya menonjolkan sudut yang khusus dari mana kaum muslimin memandang ilmu, tetapi menekankan keharusan untuk mencari ilmu. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa perintah Allah
Ilmu
berfungsi sebagai pertanda adanya Allah
, sebab orang yang mempelajari alam dan
prosesnya dengan cermat dan mendalam akan menjumpai banyak peristiwa yang
menunjukan adanya tangan yang tidak tampak, yang membina dan mengawasi semua
kejadian alam. Tangan itu adalah Tangan Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.
Tujuan duniawi ilmu adalah untuk memungkinkan seseorang hidup sukses dengan
cara memahami alam baik yang pisik maupun yang psikis kemudian memanfaatkannya
untuk kemaslahatan individual dan sosial. Sedangkan tujuan ukhrawi ilmu
adalah supaya dengan ilmu pengetahuan seseorang dapat mengarahkan diri
untuk selalu berupaya agar semua aktifitas mempunyai nilai ukhrawi.
Demikian pentingnya ilmu pengetahuan menurut al-Qur’an, sehingga Allah
memerintahkan Nabi untuk berdoa supaya
ilmunya selalu bertambah:
Demikian pentingnya ilmu pengetahuan menurut al-Qur’an, sehingga Allah
{ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي
عِلْمَاً } [ طه : 114 ]
Bagi Nabi Muhammad
, ilmu pengetahuan lebih utama daripada
berdoa. Mengenai hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan tentang penting dan
keutamaan ilmu cukup banyak dan populer, antara lain:)
سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة وأثرها السيئ في الأمة - (ج
1 / ص 600)416 - " اطلبوا العلم ولو بالصين " .
باطل .
رواه ابن عدي ( 207 / 2 ) وأبو نعيم في " أخبار أصبهان
" ( 2 / 106 ) وابن عليك النيسابوري في " الفوائد " ( 241 / 2 ) وأبو
القاسم القشيري في " الأربعين " ( 151 / 2 ) والخطيب في " التاريخ
" ( 9 / 364 ) وفي " كتاب الرحلة " ( 1 / 2 ) والبيهقي في " المدخل
" ( 241 / 324 ) وابن عبد البر في " جامع بيان العلم " ( 1 / 7 - 8
) والضياء في " المنتقى من مسموعاته بمرو" ( 28 / 1 ) كلهم من طريق الحسن
بن عطية حدثنا أبو عاتكة طريف بن سلمان عن أنس مرفوعا ، وزادوا جميعا : " فإن
طلب العلم فريضة على كل مسلم " وقال ابن عدي :
“Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri cina”,
“Carilah ilmu sejak buaian sampai ke liang
lahad” dan “Siapa saja yang menginginkan kebaikan di dunia hendaknya mencari
ilmu dan siapa saja yang menginginkan kebahagiaan akhirat hendaknya dengan
ilmu”.
الأربعين النووية - (ج 1 / ص 110)
وقال الشافعي : " ليس شيء بعد الفرائض أفضل من طلب العلم " .
وقال : " من أراد الدنيا فعليه بالعلم ، ومن أراد الآخرة فعليه
بالعلم " .
Oleh karena ilmu harus dicari, bahkan kalau perlu harus musafir ketempat yang jauh seperti jauh dan sulitnya menuju negeri Cina dan Madinah di zaman onta, bahkan lebih jauh daripadanya, maka Islam tidak membatasi ilmu sebatas ilmu hukum Islam saja, tetapi semua ilmu yang membawa kepada kemaslahatan duniawi dan ukhrawi baik individual maupun sosial.
Kebenaran ilmu dalam Islam harus dapat dibuktikan baik secara rasional normatif maupun rasional empiris. Tiada dogma bagaimanapun keramat dan tuanya, yang diterima dalam Islam, kecuali ilmu itu telah diuji secara normatif dan empirik. Al-Qur’an menantang kaum penganut kepercayaan yang palsu supaya menunjukan bukti-bukti tentang kebenarannya. Mereka yang tidak menerima kebenaran al-Qur’an sebagai sumber kebenaran ditantang untuk menulis satu surat saja, Jika memang mereka masih meragukan kebenaran al-Quran yang sangat banyak memiliki data empiris dan rasional, dan jauh lebih banyak dari sekadar pengetahuan manusia yang ditemukan melalui penelitian bertahun-tahun untuk menemukan suatu penemuan, yang bahkan masih mengandung kebenaran yang relatif. Sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 23, yaitu:
وان
كنتم فى ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله وادعوا شهداء كم من دون الله
كنتم صدقين (البقرة: 23)
Artinya: “Dan
jika kamu dalam keraguan tentang kebenaran al-Qur’an yang kami turunkan kepada
hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang sama dengan al-Quran dan
ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”
(al-Baqarah: 23).
Al-Quran juga menekankan begitu
pentingnya bukti dan kesahihan data, sehingga menasihatkan orang-orang yang
beriman supaya tidak menerima informasi yang belum jelas sumber dan
kebenarannya dan tidak menyikapi sesuatu pendapat atau pernyataan tanpa dasar
pengetahuan yang dapat dipertanggung-jawabkan baik di sisi Allah
maupun
ke khalayak ramai.
ولاتقف ماليس لك به علم ان السمع والبصروالفؤاد كل اولئك كان
عنه مسئولا(الاسراء: 36)
Artinya: “Dan
Janganlah kamu menyikapi sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan
diminta pertanggung-jawabannya (al-Isra’: 36).
Ayat di
atas mengisyaratkan larangan untuk membuat pernyataan yang berdasar pada data
yang tidak valid dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara empiris maupun
normatif. Main tebakan dan perkiraan semata harus dihindari karena pengetahuan
tanpa dasar yang jelas adalah sama dengan berbuat dosa.
Ada satu prinsip ilmu pengetahuan bahwa proposisi itu tidak lebih dari suatu pernyataan yang mungkin saja benar atau tidak benar. Proposisi itu akan benar jika didukung oleh bukti dan data yang valid dan reliable. Di sinilah arti pentingnya ilmu metode penelitian atau methodologi research dan penerapannya untuk memperoleh data yang sahih dan akurat. Haruslah menjadi suatu prinsip bahwa suatu bukti yang diambil dari tradisi harus dirubah, apabila ternyata bertentangan dengan data empiris hasil indra.
Dengan demikian, ilmu dan kebenaran tidak bisa dipisahkan. Artinya, suatu ilmu akan memiliki nilai kebenaran bila didukung oleh sumber data normatif dan empiris yang valid dan reliable. Kebenaran harus berdasar pada ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan sosial dihadapan Tuhan Yang Maha Suci sebagai sumber semua ilmu pengetahuan.
Ada satu prinsip ilmu pengetahuan bahwa proposisi itu tidak lebih dari suatu pernyataan yang mungkin saja benar atau tidak benar. Proposisi itu akan benar jika didukung oleh bukti dan data yang valid dan reliable. Di sinilah arti pentingnya ilmu metode penelitian atau methodologi research dan penerapannya untuk memperoleh data yang sahih dan akurat. Haruslah menjadi suatu prinsip bahwa suatu bukti yang diambil dari tradisi harus dirubah, apabila ternyata bertentangan dengan data empiris hasil indra.
Dengan demikian, ilmu dan kebenaran tidak bisa dipisahkan. Artinya, suatu ilmu akan memiliki nilai kebenaran bila didukung oleh sumber data normatif dan empiris yang valid dan reliable. Kebenaran harus berdasar pada ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan sosial dihadapan Tuhan Yang Maha Suci sebagai sumber semua ilmu pengetahuan.
D. Kesimpulan
Dari uraian wacana di atas dapat disimpulkan bahwa dari segi aksiologis pengembangan ilmu pengetahuan dan penggunaan teknologi sebagai hasil eksplorasi ilmu pengetahuan harus selalu mengacu pada wawasan yang suci dan kemanusiaan. Dalam artian penekanan pada aspek vertikal dan horizontal sebagai landasan moral dalam berkarya dan berinovasi merupakan keniscayaan yang harus dilakukan. Dengan berlandaskan iman dan berorientasi pada kemaslahatan manusia sebagai visi dan misi perjuangan tentu peradaban dunia akan menapaki era emas, di mana nilai-nilai kemanusiaan terjaga dan sarat nilai ketuhanan. Untuk itu, dalam konteks ini agama, etika, estetika, dan aturan adat harus tetap terjaga. Jangan sampai pengembangan ilmu pengetahuan menganut konsep barat yang sekuler dan antroposentris[38] yang bisa membuat dunia semakin berantakan dan gersang nilai ketuhanan.
Dari uraian wacana di atas dapat disimpulkan bahwa dari segi aksiologis pengembangan ilmu pengetahuan dan penggunaan teknologi sebagai hasil eksplorasi ilmu pengetahuan harus selalu mengacu pada wawasan yang suci dan kemanusiaan. Dalam artian penekanan pada aspek vertikal dan horizontal sebagai landasan moral dalam berkarya dan berinovasi merupakan keniscayaan yang harus dilakukan. Dengan berlandaskan iman dan berorientasi pada kemaslahatan manusia sebagai visi dan misi perjuangan tentu peradaban dunia akan menapaki era emas, di mana nilai-nilai kemanusiaan terjaga dan sarat nilai ketuhanan. Untuk itu, dalam konteks ini agama, etika, estetika, dan aturan adat harus tetap terjaga. Jangan sampai pengembangan ilmu pengetahuan menganut konsep barat yang sekuler dan antroposentris[38] yang bisa membuat dunia semakin berantakan dan gersang nilai ketuhanan.
Di dalam
Islam bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dengan berlandaskan pada wawasan yang
suci merupakan suatu keharusan, yaitu Allah adalah Zat Yang Maha Wujud, Yang
Maha mengetahaui dan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Segala bentuk
aktifitas yang dilakukan harus diniatkan sebagai ibadah untuk mendapatkan
ridha-Nya.
[1]
ku·no a 1
lama (dr zaman dahulu); dahulu kala: barang-barang --; 2 kolot; tidak modern: pendapat -- harus ditinggalkan;
[3] trans·por·ta·si n 1 pengangkutan barang oleh berbagai jenis
kendaraan sesuai dng kemajuan teknologi; 2
perihal (seluk- beluk) transpor; 3
pemindahan bahan lepas hasil pelapukan dan erosi oleh air, angin, dan es
[4] iri·ga·si n pengaturan
pembagian atau pengaliran air menurut sistem tertentu untuk sawah dsb;
pengairan: saluran
-- yg telah rusak hendaknya segera diperbaiki untuk mencegah terjadinya banjir
[6] tek·no·lo·gi /téknologi/ n 1 metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis;
ilmu pengetahuan terapan; 2 keseluruhan
sarana untuk menyediakan barang-barang yg diperlukan bagi kelangsungan dan
kenyamanan hidup manusia;
-- medis ilmu kedokteran yg
menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk membantu menemukan penyebab
penyakit serta membantu pengobatannya;
-- pendidikan Dik metode
bersistem untuk merencanakan, menggunakan, dan menilai seluruh kegiatan
pengajaran dan pembelajaran dng memperhatikan, baik sumber teknis maupun
manusia dan interaksi antara keduanya, sehingga mendapatkan bentuk pendidikan
yg lebih efektif;
-- tinggi teknologi yg dianggap
bertaraf tinggi dan belum ada teknologi yg menandingi kelebihannya
[7]
bom [1] n senjata yg bentuknya spt peluru besar yg
berisi bahan peledak untuk menimbulkan kerusakan besar;
-- atom
bom yg ledakannya terjadi krn pelepasan energi atom yg dihasilkan dng pemecahan
inti suatu unsur kimia yg berat (msl uranium atau plutonium) dng neutron dl
suatu reaksi berantai yg sangat cepat;
-- brisan
bom meledak;
-- gunung api
Geo
bahan batuan erupsi yg terdiri atas partikel berukuran beberapa kaki yg menjadi
padat ketika diembuskan oleh gunung api;
-- hidrogen
bom yg ledakannya disebabkan oleh pelepasan energi atom yg dihasilkan oleh inti
helium yg merupakan hasil perpaduan inti ringan pd suhu yg sangat tinggi;
-- klaster
bom yg pd waktu mendekati tanah meledak dan pecah menjadi bagian-bagian kecil;
-- kumbang
ranjau laut;
-- laut
bom yg dilemparkan ke dl laut (untuk menghancurkan kapal selam);
-- molotov
bom bakar sederhana berisi kerosin: para demonstran melempari polisi dng -- molotov;
-- napalm
bom yg mengandung bahan kimia yg mudah terbakar; bom pembakar;
-- nuklir
bom yg diledakkan dng tenaga nuklir;
-- pembakar bom yg menyemburkan
api (untuk menimbulkan kebakaran pd bangunan dsb);
-- pintar
peluru besar yg dapat dikendalikan menuju sasarannya; rudal;
-- tarik
bom yg diledakkan dng cara ditarik dng tali yg diikatkan pd bom itu;
-- waktu
bom yg waktu meledaknya dapat diatur;
-- zat cair
bom hidrogen;
me·nge·bom v melemparkan (menghancurkan dng bom);
pe·nge·bom n 1 orang atau pesawat yg mengebom; 2 alat untuk
mengebom;
pe·nge·bom·an v penyerangan (penghancuran dsb) dng bom;
proses, cara, perbuatan mengebom
[8]
ne·ga·tif [1] /négatif/ a 1
tidak pasti; tidak tentu; tanpa pernyataan: jawabannya masih -- , belum positif;
2 kurang baik; menyimpang dr ukuran umum:
lingkungan
dapat mengakibatkan pengaruh -- thd kesejahteraan kita; birokrasi yg --
menimbulkan kesempatan untuk mencari keuntungan pribadi;
ke·ne·ga·tif·an n keadaan negatif (kurang baik, kurang pasti,
dsb): berbagai
~ dapat disebabkan oleh sejarah politik
[9]
ma·la·pe·ta·ka n
kecelakaan; kesengsaraan; musibah: siapa pun tidak mengharapkan -- datang menimpanya
[10]
pro·por·si·o·nal a sesuai dng
proporsi; sebanding; seimbang; berimbang: program dapat disusun secara rapi
sehingga masalahnya dapat ditangani secara --
[11]
ha·bi·tat n 1 tempat tinggal khas bagi seseorang atau
kelom-pok masyarakat; 2 Bio tempat
hidup organisme tertentu; tempat hidup yg alami (bagi tumbuhan dan hewan);
lingkungan kehidupan asli; 3 Geo tempat
kediaman atau kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia dng kondisi tertentu pd
permukaan bumi;
-- kering lingkungan kehidupan
yg kelembapan udaranya sedikit;
-- satwa lingkungan yg
berfungsi sbg daya dukung kehidupan satwa
[12]
kon·struk·tif a 1 bersangkutan dng konstruksi; 2 ki bersifat membina, memperbaiki, membangun,
dsb: kritiknya
sangat --
[13]
des·truk·tif /déstruktif/ a bersifat
destruksi (merusak, memusnahkan, atau menghancurkan): alat keamanan negara
pasti mampu mengatasi tindakan -- yg mengganggu ketenangan masyarakat
[14] mo·ral n 1 (ajaran tt) baik buruk yg diterima umum mengenai
perbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila: -- mereka sudah bejat,
mereka hanya minum-minum dan mabuk-mabuk, bermain judi, dan bermain perempuan;
2 kondisi mental yg membuat orang tetap
berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan
perasaan sebagaimana terungkap dl perbuatan: tentara kita memiliki -- dan daya tempur
yg tinggi; 3 ajaran kesusilaan
yg dapat ditarik dr suatu cerita;
ber·mo·ral v 1
mempunyai pertimbangan baik buruk; berakhlak baik: mana ada penjahat yg -; 2 sesuai dng moral (adat sopan santun dsb): ia
melakukan perbuatan yg tidak -
[15]
ku·tuk [1] n 1 doa
atau kata-kata yg dapat mengakibatkan kesusahan atau bencana kpd seseorang; 2 kesusahan atau bencana yg menimpa seseorang
disebabkan doa atau kata-kata yg diucapkan orang lain; laknat; sumpah: mereka tidak berani
berbuat jahat krn takut kena --;
me·ngu·tuk v 1 mengatakan (mengenakan) kutuk kpd; menyumpahi;
melaknati; 2 menyatakan dan menetapkan
salah (buruk): kita
harus ~ segala perbuatan korupsi;
me·ngu·tuki v mengutuk;
ter·ku·tuk v 1 terkena kutukan: perbuatan yg ~; 2 celaka: ~ lah kamu jika melawan orang tuamu;
ku·tuk·an n sumpah (makian, nista, dsb); laknat (Tuhan): kena ~ Tuhan;
ke·ter·ku·tuk·an n perihal terkutuk: ibu tidak mungkin
menggelimangi masa depanmu dng ~ terus-menerus
[16]
en·sik·lo·pe·dia /énsiklopédia/ n buku (atau
serangkaian buku) yg menghimpun keterangan atau uraian tt berbagai hal dl
bidang seni dan ilmu pengetahuan, yg disusun menurut abjad atau menurut
lingkungan ilmu
[17]
Is·lam n agama yg
diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. berpedoman pd kitab suci Alquran yg
diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah Swt.;
[18]
Al·qur·an n kitab suci
umat Islam yg berisi firman Allah yg diturunkan kpd Nabi Muhammad saw. dng
perantaraan malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sbg petunjuk
atau pedoman hidup bagi umat manusia
[20] iba·dah n perbuatan
untuk menyatakan bakti kpd Allah, yg didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya
dan menjauhi larangan-Nya; ibadat;
-- badaniah Isl ibadah
yg dilakukan secara fisik, spt salat;
-- haji Isl ibadah
wajib yg dikerjakan minimal satu kali dl hidup dng pergi ke Mekah dan Medinah
disertai rukun dan syarat yg telah ditetapkan;
-- puasa Isl ibadah
wajib setahun sekali selama satu bulan yg dilakukan pd bulan Ramadan;
-- sunah Isl ibadah
yg tidak diwajibkan, jika dikerjakan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan
tidak berdosa, spt puasa pd hari Senin dan Kamis;
-- wajib Isl ibadah
yg diwajibkan, jika dikerjakan mendapat pahala tidak dikerjakan berdosa, spt
salat lima waktu, puasa pd bulan Ramadan;
ber·i·ba·dah v menjalankan ibadah; menunaikan segala
kewajiban yg diperintahkan Allah;
per·i·ba·dah·an n hal (cara dsb) beribadah
[21]
tang·gung ja·wab n 1 keadaan wajib menanggung segala sesuatunya
(kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb): pemogokan itu menjadi
-- pemimpin serikat buruh; 2 Huk fungsi
menerima pembebanan, sbg akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain;
[22] so·si·al a 1 berkenaan dng masyarakat: perlu adanya
komunikasi -- dl usaha menunjang pembangunan ini; 2 cak suka memperhatikan kepentingan umum (suka
menolong, menderma, dsb): ia sangat terkenal dan -- pula;
[23] mus·lim n penganut
agama Islam: selaku
seorang -- , kita wajib berzakat dan menunaikan ibadah haji jika mampu
[24] http://berkas-kuliah.blogspot.com/2013/02/tanggung-jawab-sosial-ilmuwan.html
[25]
ener·gi /énérgi/ n Fis
kemampuan untuk melakukan kerja (msl untuk energi listrik dan mekanika); daya
(kekuatan) yg dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan, msl
dapat merupakan bagian suatu bahan atau tidak terikat pd bahan (spt sinar
matahari); tenaga;
-- atom Fis energi
yg diperoleh dng peleburan nuklir; tenaga atom;
-- bebas sebagian dr energi
potensial yg dilepaskan dan dipakai untuk pekerjaan yg berguna;
-- bersih sejumlah energi yg
terkandung dl cadangan tubuh atau dl hasil produksi, msl lemak badan, protein
tubuh, air susu, telur, wol, atau tenaga;
-- geotermal Geo panas yg
terdapat di dl bumi yg digunakan sbg pembangkit tenaga;
-- inti Fis energi
yg dilepaskan oleh pembelahan inti atau paduan inti;
-- kinetik Fis energi
yg disebabkan oleh gerak suatu massa; tenaga gerak;
-- kotor energi yg terkandung
dl bahan makanan yg dapat dimanfaatkan oleh binatang;
-- matahari sumber utama energi
atmosfer yg penyebarannya di seluruh muka bumi merupakan pengendalian yg besar
thd cuaca dr iklim, selain berpengaruh thd tanaman dan binatang;
-- mekanis kekuatan yg mampu
menggerakkan atau memindahkan bagian-bagian rangkaian peralatan;
-- metabolisme jumlah energi yg
didapat dr bahan makanan dan digunakan untuk metabolisme;
-- nuklir tenaga yg dikaitkan
dng reaksi nuklir;
-- potensial energi yg ada pd
suatu benda krn letak benda itu dl medan gaya;
-- putar tenaga yg ditimbulkan
dng pemutaran sesuatu;
-- tekan tenaga yg ditimbulkan
dng penekanan sesuatu
[26] Niklas Koppernigk (latin: Nicolaus
Copernicus; bahasa Polandia Mikołaj Kopernik; lahir di Toruń, 19 Februari 1473 – meninggal di Frombork, 24 Mei 1543 pada umur 70 tahun) adalah seorang astronom, matematikawan,
dan ekonom
berkebangsaan Polandia, yang mengembangkan teori heliosentrisme
(berpusat di matahari) Tata Surya
dalam bentuk yang terperinci, sehingga teori tersebut bermanfaat bagi sains. (http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Copernicus)
-- daerah
hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya
sendiri sesuai dng peraturan perundang-undangan yg berlaku;
[32]
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu
yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.[1]
Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:
Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:
a)
Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
b)
Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
c)
Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan
moral?
d)
Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral
dan professional? (filsafat etika)
[33] de·mar·ka·si /démarkasi/ n batas pemisah, biasanya
ditetapkan oleh pihak yg sedang berperang (bersengketa) yg tidak boleh dilanggar selama gencatan senjata berlangsung
untuk memisahkan dua pasukan yg saling berlawanan dl medan pertempuran;
perbatasan; tanda batas
[34]
fak·tu·al a
berdasarkan kenyataan; mengandung kebenaran: laporan yg tidak -- tidak dapat
dipertanggungjawabkan
[35] Praksis adalah proses dimana suatu teori, pelajaran, atau keterampilan diberlakukan, dipraktekkan, diwujudkan, atau menyadari. "Praxis" juga bisa merujuk kepada
tindakan menarik, menerapkan, berolahraga, menyadari, atau berlatih ide. Ini
telah menjadi topik berulang dalam
bidang filsafat, dibahas dalam tulisan-tulisan Plato, Aristoteles, St Augustine,
Immanuel Kant, Soren
Kierkegaard, Karl Marx, Martin Heidegger, Hannah
Arendt, Paulo Freire,
Ludwig von Mises,
dan banyak lainnya . Ini memiliki makna dalam
alam politik, pendidikan,
dan spiritual.
[36] Sayyid Abul A'la Maududi (Urdu: سید ابو الاعلىٰ مودودی -
pengejaan alternatif nama akhir Maududi, dan Mawdudi) (25 September 1903 - 22 September 1979),[1] juga dikenal sebagai Mawlana (Maulana) atau Syeikh Sayyid Abul A'la Mawdudi, adalah jurnalis, teolog, dan filsuf politik Pakistan Sunni, dan mayor pemikir Islam Ortodoks abad ke-20.[2] Dia
juga merupakan figur politik di negaranya (Pakistan), dimana didirikan partai
Islam Jamaat
Al-Islami.[3]
[38] Antroposentrisme adalah paham bahwa manusia adalah
spesies paling pusat dan penting daripada spesies hewan)
atau penilaian kenyataan melalui sudut pandang manusia yang eksklusif.[2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar